Menuju konten utama

Film yang Maknanya Berubah Saat Ditonton Ulang Setelah Dewasa

Memproses sebuah film artinya menikmatinya lewat konteks dan situasi kita pada saat itu juga.

Film yang Maknanya Berubah Saat Ditonton Ulang Setelah Dewasa
Header diajeng Menonton Film, FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Beranjak dewasa berarti bukan hanya umur kita yang berubah, tetapi juga cara kita memandang dunia di sekitar, tak terkecuali cerita yang kita konsumsi dari medium film.

Finding Nemo (2003), misalnya. Film ikonik ini menceritakan kisah seekor ikan badut bernama Nemo. Tumbuh sebagai satu-satunya anak dengan ayah tunggal, Marlin, membuat Nemo merasa tertekan dari sifatnya yang protektif.

Di tengah perdebatan dengan Marlin, Nemo ditangkap oleh seorang penyelam. Pertama kali dalam hidupnya, Nemo berpisah dengan sang ayah.

Sebagai anak kecil, kita menikmati Finding Nemo sebagai kisah petualangan tentang ayah yang mencari anaknya di lautan luas.

Namun, ketika kita kembali menontonnya di usia 20 atau 30-an, film ini mungkin dapat meninggalkan kesan berbeda.

Dulu, kita menganggap Marlin sebagai orang tua bawel yang mengekang Nemo. Pemberontakan yang dilakukan Nemo adalah sebuah “kemenangan” bagi kita yang masih kanak-kanak.

Sekarang, kita bisa lebih memahami posisi Marlin. Kita melihat betapa tidak mudahnya menjadi ayah tunggal untuk seorang anak. Sifat Marlin yang sangat melindungi Nemo adalah bukti cintanya terhadap anak satu-satunya.

Di samping Finding Nemo, film kartun Disney lama The Little Mermaid (1989) bisa jadi memberikan efek serupa.

Sebagai anak, kita mungkin terkesan dengan sifat keras kepala Ariel dan tekadnya untuk berubah demi laki-laki pujaan hatinya. Pemberontakan tersebut sekilas begitu indah untuk diromantisasi.

Begitu kita dewasa, ada banyak “red flags” yang bisa disoroti. Perlukah kita berubah demi orang yang kita sukai? Di sisi orang tua, alih-alih melarang-larang anak tanpa penjelasan masuk akal, apa yang sebenarnya bisa diusahakan untuk memperbaiki pola komunikasi?

Momen perenungan bisa juga kita temukan dari film komedi yang dibintangi mendiang aktor Robin Williams, Mrs. Doubtfire (1993).

Ketika kecil, kita begitu mudah dibuat terbahak-bahak menyaksikan transformasi sang aktor menjadi seorang perempuan tua jenaka yang mengasuh anak-anak di rumahnya sendiri. Ada saja adegan komikal nan konyol yang selalu membuat kita geleng-geleng kepala.

Namun, seiring waktu, film tersebut mungkin membuat kita tertegun betapa kompleksnya isu perceraian dan hak asuh anak.

Bagaimana ayah yang tidak punya tempat tinggal tetap dan pekerjaannya masih serabutan dapat memperoleh hak asuh anak demi membersamai tumbuh-kembang mereka?

Film remaja yang romantis juga bisa memberikan impresi berbeda jika ditonton dulu dan sekarang.

The Princess Diaries (2001), misalnya. Film yang dipasarkan ke kalangan remaja ini bisa jadi “peak girlhood” bagi sebagian generasi Milenial.

Mia, karakter utama dalam film tersebut, harus belajar menjadi anggota kerajaan setelah menjalani hari-hari yang canggung di sekolahnya sebagai anak yang kurang populer.

Sebagai pemirsa cilik, kita pun dibuat terpukau dengan transformasi Mia yang drastis menjadi seorang putri kerajaan dengan penampilan jauh lebih rapi dan elegan.

Namun, seiring bertambah dewasa, kita pun sadar The Princess Diaries bukan sekadar tentang gemerlap hidup jadi bangsawan. Film ini menceritakan bahwa pada satu titik, penerimaan diri menjadi ujian yang harus dilalui oleh setiap orang.

Jangan lupa juga dengan franchise film romantis vampir dan manusia yang diangkat dari novel, Twilight (2008-2012). Siapa yang dulu tidak ikut terbawa kisah cinta Edward Cullen dan Bella Swan?

Saat menontonnya kembali setelah dewasa, sudut pandang kita mungkin berubah. Gestur Edward yang dulu dianggap romantis, seperti selalu mengawasi Bella ke mana pun gadis itu pergi, sekarang melahirkan pertanyaan kritis tentang batas antara cinta dan kontrol.

Di sisi lain, ada pula penonton yang kini menikmati Twilight dengan cara berbeda. Beberapa adegan terasa lebih menghibur karena premis fantasinya yang unik. Misalnya, Edward yang sebenarnya telah berusia lebih dari satu abad, tetapi terus menjalani kehidupan sebagai siswa SMA.

Elemen-elemen cerita yang dulu kita diterima begitu saja bisa jadi bagian yang cukup seru untuk didiskusikan ulang ketika kita dewasa.

Dalam buku berjudul Making Meaning: Inference and Rhetoric in the Interpretation of Cinema (1989), David Bordwell menjelaskan bahwa pemaknaan tentang film tidak hanya terletak pada aspek teknis.

Kita sering mengira bahwa kritikus film hanya melihat film dari sisi analitis, filosofis, dan ilmiahnya saja.

Padahal, sesungguhnya, kritikus film juga memasukkan unsur subjektif, yakni melihat film dari rasa keterkaitan dirinya pada film tersebut.

Artinya, hikmah dari cerita film yang tangkap setiap orang tentu berbeda-beda sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami. Memproses sebuah film artinya menikmatinya lewat konteks dan situasi kita pada saat itu juga.

Seiring bertambahnya usia, kita melewati berbagai peristiwa hidup. Keseharian kita tidak sama, kepribadian kita tidak sama. Pendek kata, kita bukan orang yang sama.

Cara pandang kita terhadap film yang pernah ditonton juga pastinya berbeda. Wajar jika kita tidak memiliki perasaan yang sama seperti saat pertama kali menonton film tersebut.

Buat kamu, film apa yang dirasa berbeda setelah disaksikan semasa kecil atau remaja dan sekarang ketika sudah berusia lebih dewasa?

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih