diajeng.id - Apa kamu selalu melibatkan teman-temanmu dalam perjalanan cintamu?
Tatkala berinteraksi dengan gebetan, kamu sigap lapor ke teman-teman. Chat masuk? Langsung forward ke grup chat bersama.
Atau ketika kamu matched dengan suatu profil, kamu langsung membagikan infonya ke grup pertemanan untuk meminta pertimbangan mereka.
Fenomena yang semakin marak ini disebut friendfluence. Dilansir dari Vice, terapis trauma somatik Chloë Bean menjelaskan bahwa friendfluence terjadi ketika kamu “membiarkan teman-temanmu ikut serta dalam kehidupan cintamu dan berperan sebagai kopilot”.
Bukan hanya menjadi pendengar ceritamu, dalam konteks friendfluence, teman-temanmu punya andil dalam menentukan arah hubunganmu.
Teman-temanmu juga berperan sebagai “polisi” yang melakukan background-check alias memeriksa partnermu, bahkan sampai ke akar-akarnya.
Dengan keluwesan memanfaatkan media sosial, mereka mampu menyelidiki latar belakang calon pasangan, menilai sifat-sifatnya, sampai mencari-cari fakta penting yang mungkin dilupakan atau disembunyikan pasanganmu.
Hubungan romansa bukan lagi antara kamu dan pasanganmu, tetapi pasanganmu, kamu, dan teman-temanmu.
“Hal ini memperkuat gagasan bahwa hubungan tidak terjadi dalam ruang kosong; hubungan dimaksudkan untuk berkembang dalam dunia sosial yang nyata, bukan sekadar situasi yang penuh tekanan antara dua orang saja,” jelas Devyn Simone, pakar hubungan dari Tinder dikutip dari Cosmopolitan.
Tidak bisa dimungkiri, menjalin hubungan romantis pada satu titik bisa terasa sangat mengintimidasi lantaran hanya dua orang yang terlibat di dalamnya. Maka kehadiran teman-teman dalam hubungan tersebut bisa jadi mengurangi tekanan yang muncul.
Dalam pengertian di atas, percintaan bukan lagi sesuatu yang dibebankan pada kamu dan pasanganmu. Dinamika dalam relasi kalian pada akhirnya ditanggung bersama teman-teman yang telah kamu percaya.
Friendfluence, Seberapa Penting?
Orang yang jatuh cinta cenderung punya pandangan yang bias terhadap dunia di sekitarnya.
Perilaku bare-minimum atau low-effort dari pasangan bisa dipandang spesial, sedangkan red flag justru diabaikan begitu saja.
Nah, teman-temanmu tidak selalu punya pandangan bias yang sama. Meski mereka hampir selalu ada di pihakmu, mereka juga masih bisa mengambil jarak sehat untuk melihat pasanganmu secara netral.
Melansir penjelasan dari artikel di Psychology Today, teman-teman kita cenderung lebih bisa waspada terhadap perilaku pasangan kita. Kewaspadaan ini muncul dari kekhawatiran mereka terhadap diri kita yang sudah lebih lama mereka kenal sebagai teman.
Sebagai teman dekat, pastinya mereka ingin yang terbaik untukmu. Kalau mereka tidak suka terhadap pasanganmu, kamu bisa mencari tahu dulu alasannya. Bisa saja temanmu berusaha melindungimu dari kemungkinan-kemungkinan buruk di masa depan.
Teman-temanmu juga bisa menjadi dukungan emosional yang baik.
“Empati serta rasa dipahami oleh mereka bisa membantumu merasa tidak sendirian dan tervalidasi atas perasaanmu,” tulis Jeffrey Bernstein PhD dalam artikelnya di Psychology Today.
Terbuka terhadap hubunganmu ke teman-temanmu berdampak pula pada relasi kalian sebagai teman. Berbagi permasalahan dan menanggungnya bersama-sama bisa menguatkan pertemanan kalian.
Kehadiran temanmu bisa menjadi dukungan yang penting dalam hubungan kalian. Bukan hanya menyediakan perspektif baru akan kamu dan partnermu, tetapi mereka juga bisa jadi tempat aman untukmu bercerita kapan saja.
Dua Sisi Friendfluence
Eva (22) merasa campur tangan teman dalam kehidupan percintaannya cukup penting. Beberapa waktu lalu, ada sesosok laki-laki yang sempat mendekati dirinya untuk menjalin hubungan romantis.
Eva secara aktif mengabari grup chat pertemanannya tentang laki-laki ini. Mereka ikut merespons dan membantu Eva memutuskan langkah-langkah dalam hubungan mereka. Teman-teman Eva juga turut mengecek identitas laki-laki ini dari akun media sosialnya.
Usut punya usut, laki-laki ini ternyata memiliki latar belakang yang mencurigakan. Tidak ada kejelasan tentang riwayat pendidikannya, tempat bekerjanya, atau bahkan aktivitasnya akhir-akhir ini.
Eva sendiri tahu laki-laki tersebut tidak sesuai dengan standar yang dimilikinya. Eva pun kemudian memutuskan untuk mengakhiri proses pendekatan yang dilakukan dengan laki-laki tersebut secara halus.
Pada tahapan ini pun, teman-teman Eva ikut membantu menyusun kalimat yang tepat untuk dikirim ke si laki-laki.
“Karena aku kadang ‘buta [cinta]’... Menurut aku, third opinion kadang bisa membuat aku tahu cara aku berpikir,” ucapnya.
Eva tidak merasa terganggu dengan teman-temannya ikut serta dalam kisah cintanya, “Aku happy sudah dibimbing dan disadarkan, dan aku senang sekali punya teman yang sayang sama aku.”
Di kesempatan lain-lainnya, Eva tetap akan meminta saran dari teman-temannya. Pada waktu sama, Eva tidak menampik keterlibatan teman-temannya bisa membuatnya bingung.
“Mungkin pikiranku jadi tercampur setiap saat, tapi ini nggak masalah karena memang aku butuh second and third opinion,” tukas Eva.
Di sisi lain, Naomi (22) selalu memberikan batasan yang jelas terhadap keterlibatan teman dalam hubungannya.
Setelah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan pacarnya, Naomi mengikutsertakan temannya sebagai tempatnya bercerita.
“Temenku lebih ke kasih saran aja,” jelas Naomi, “Kalau menurutku mereka itu perannya lebih mengingatkan aku, apa aku lagi buat salah atau nggak.”
Setiap memiliki permasalahan dengan pasangannya, Naomi selalu menunggu permasalahannya reda sebelum bercerita ke temannya. Menurut Naomi, teman-temannya bisa saja memiliki pandangan yang bias karena hanya memiliki perspektif dirinya.
“Mereka cenderung membela aku, nah itu dampaknya berbahaya karena mereka bisa menilai cowokku sebagai pasangan nggak bener. Padahal sebenarnya di balik itu cowokku juga masih kasih effort segala macam,” terang Naomi.
Naomi menganggap penting untuk menyampaikan perspektif pasangannya kepada teman-temannya. Dengan begitu, teman-temannya bisa memberikan saran tanpa berat ke satu pihak saja.
Friendfluence memang memiliki makna berbeda pada setiap orang; teman bisa jadi pendukung dalam relasi asmaramu, bisa pula malah menjadi penghalang.
Pastikan segala saran dan masukan dari temanmu benar-benar baik untuk hubunganmu. Bagaimana pun juga, kamu dan pasanganmu adalah pihak yang paling tahu tentang hubungan kalian.
Kalau kamu, seberapa nyaman curhat atau meminta saran ke sirkel pertemanan soal pasanganmu?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih