diajeng.id - Pertandingan akbar Piala Dunia 2026 resmi usai dengan kemenangan Spanyol atas Argentina.
Di balik kemeriahan itu semua, tidak bisa dimungkiri ada begitu banyak momen dari timnas dan atlet negara lain yang begitu membekas di hati kita.
Salah satunya, kita dibuat terkesima oleh pesona striker dari timnas Norwegia, Erling Haaland.
Meski timnya gugur sebelum sempat merasakan panggung semifinal, pencetak lima gol dalam tiga kali pertandingan ini tetap diakui sebagai salah satu pencetak gol terbaik di dunia.
Selain dipuja-puji karena keterampilannya bermain bola, Haaland menarik perhatian banyak orang karena pembawaannya yang rendah hati.
Usai mencetak rekor sebagai penghasil gol terbanyak dalam satu musim Premier League di 2025 lalu, Haaland terbukti tetap menjaga diri dari ekspresi kebanggaan atau validasi yang berlebihan.
Kerendahan hati Haaland tidak lepas dari budaya dan lingkungan sosial tempat dia dibesarkan. Masyarakat Norwegia dikenal memegang kuat kultur Skandinavia yang menekan rasa besar kepala.
Alexander Skarsgård, aktor asal Swedia, memberikan respons serupa setelah memenangkan piala Emmy pertamanya tahun 2018.
Pada acara Colbert Late Show, anak sulung dari keluarga pemain film Skarsgård tersebut menuturkan, “Aku lahir dan dibesarkan di Swedia, dan kita memiliki sesuatu bernama Law of Jante. Itu sesuatu yang nyata, The Law of Jante. [..] Jangan menyombongkan diri, pamer yang berlebihan, atau bahkan membanggakan diri untuk keberhasilanmu.”
The Law of Jante atau janteloven adalah kode sosial tidak tertulis yang lekat dengan keseharian masyarakat Skandinavia. Janteloven tidak hanya mengatur cara mereka bekerja, tetapi juga menjaga mereka jadi masyarakat yang sejahtera.
Janteloven, Berangkat dari Cerita Novel
Istilah janteloven pertama kali muncul dalam novel klasik karya penulis kelahiran Denmark, Aksel Sandemose, yang diterbitkan pada 1933.
Buku berjudul En Flyktning Krysser Sitt Spor (Buronan yang Melewati Jejaknya Sendiri) ini mengisahkan tentang kehidupan warga di kota fiktif bernama Jante. Kisah diceritakan lewat sudut pandang pertama tokoh utamanya, Espen Arnakke.
Setelah menjadi pembunuh di usia 17 tahun, Espen menyelusuri Jante untuk menyusun kembali jati dirinya.
Jante, tempat kelahiran Espen, adalah kota kecil yang penduduknya saling kenal satu sama lain. Bukan hanya mengenal, mereka saling mengawasi satu sama lain karena terdapat hukum Jante.
Hukum Jante atau biasa disebut janteloven, terdiri atas sepuluh tata aturan.
Beberapa di antaranya berbunyi seperti, “Jangan berpikir bahwa kamu sama baiknya dengan kami,” “Jangan berpikir bahwa kamu hebat dalam hal apapun,” “Jangan berpikir bahwa orang-orang peduli denganmu.”
Sandemose menulis tentang janteloven berdasarkan gaya hidup masyarakat di Nykøbing Mors, Denmark, tempat tinggalnya.
Meski tidak lantas dibakukan sebagai catatan atau regulasi resmi, prinsip rendah hati dan keengganan untuk tampil mencolok dari janteloven ini tecermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Skandinavia.
Prinsip-prinsip janteloven menekankan gaya hidup yang biasa-biasa saja, alih-alih ambisi menjadi bintang utama atau sosok yang merasa pantas mendapatkan perlakuan spesial karena pencapaiannya.
Irisannya dengan Prinsip Sosial Demokrasi
Terkait langsung maupun tidak, cara pandang hidup ala janteloven mengingatkan pada prinsip-prinsip sosial demokrasi, sering disebut “Model Nordik”, dalam sistem pemerintahan di negara-negara Skandinavia.
Dalam sistem demokrasi sosial, negara berperan aktif melalui berbagai kebijakan publik untuk mengurangi ketimpangan, memperkuat perlindungan sosial, dan memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata.
Maka tidak mengherankan jika masyarakat Nordik disebut memiliki solidaritas yang kuat. Di Norwegia, misalnya, masyarakat kerap terlibat rutin dalam dugnad, semacam kegiatan sukarela untuk mengabdi pada komunitas.
Kala itu, beredar luas foto aktivitas makan malam sederhana Perdana Menteri Denmark, Swedia, Norwegia, dan Presiden Finlandia yang berlangsung di rumah PM Denmark, Mette Frederiksen di Copenhagen.
Banyak warganet yang merespons foto itu dengan gurauan bahwa mereka terlihat seperti keluarga yang sedang makan malam santai alih-alih pemimpin negara yang berdiskusi serius tentang isu-isu politik internasional.
Pada akhirnya, seperti yang dicerminkan dari kehidupan masyarakat maupun para pemimpin negara-negara Nordik, budaya kerendahan hati bukan sekadar sikap personal. Nilai tersebut juga bisa jadi fondasi untuk memperkuat solidaritas sosial dan semangat tumbuh bersama sebagai sebuah komunitas. Kamu setuju?
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih