diajeng.id - Maskulinitas dibentuk oleh nilai, norma, tradisi, dan berbagai institusi sosial yang memengaruhi cara laki-laki memandang dirinya serta bagaimana mereka seharusnya bersikap. Pada titik tertentu, maskulinitas yang tidak sehat dapat membebani laki-laki lantaran tuntutan untuk selalu tampil kuat dan menekan kerentanannya.
Hal ini menjadi salah satu bahasan dalam Seminar Hybrid dari Rifka Annisa Women's Crisis Center bertajuk Beyond “Be Strong”: Maskulinitas dan Kesehatan Mental Laki-Laki, Jumat (4/9/2026).
Seminar ini sekaligus menjadi rangkaian diskusi untuk menyambut Konferensi Internasional Transformasi Maskulinitas dan Pelibatan Laki-Laki untuk Kesetaraan dan Keadilan Gender yang diselenggarakan Rifka Annisa didukung oleh Aliansi Laki-laki Baru (ALB), Pusat Kajian Law, Gender, and Society (LGS) Fakultas Hukum UGM, dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada 5-6 Februari 2027 mendatang di Yogyakarta, Indonesia.
Salah satu narasumber, Aditya Putra Kurniawan, Penggiat Aliansi Laki-Laki Baru dan Peneliti Rifka Annisa Women’s Crisis Center (WCC), memaparkan bagaimana norma maskulinitas berdampak terhadap kesehatan mental laki-laki, bahkan menjadi hambatan mereka dalam mengakses layanan psikologi.
Aditya mengutip laporan Equimundo-Rutgers (2025) tentang hasil survei terhadap 800 partisipan laki-laki mengenai makna menjadi laki-laki. Hasilnya, sebanyak 93 persen responden laki-laki di Indonesia merasa memiliki tanggung jawab utama menafkahi keluarga dan 63 persen responden percaya masalah pribadi harus diselesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Dan akibat tuntutan untuk selalu mengendalikan keadaan, sebanyak 75 persen laki-laki merasa orang lain belum benar-benar mengenal diri mereka yang sebenarnya," ungkap Aditya.
Ketika ekspektasi ini berbenturan dengan realitas, seperti saat kehilangan pekerjaan atau mengalami krisis emosional, tekanan psikologis hebat pun terjadi.
Hambatan terbesar laki-laki untuk mengakses layanan psikologi, lanjut Aditya, acap kali bersumber dari self-stigma (stigma diri) dan fenomena pluralistic ignorance.
Laki-laki cenderung merasa bahwa mengikuti konseling akan mengikis identitas laki-lakinya. Di sisi lain, mereka enggan terbuka karena mengira teman-teman sebaya akan menghakimi.
"Padahal rekan-rekannya mungkin mengalami pergulatan emosional yang sama namun sama-sama saling memendam," tegas Aditya.
Apa solusi yang bisa dipertimbangkan kemudian? Dari pengalaman penyediaan layanan psikologis bagi laki-laki, Aditya menekankan pentingnya mendefinisikan ulang makna "menjadi kuat".
Menurut Aditya, bersikap kuat bukan berarti menanggung segala beban sendirian hingga jadi terpuruk. Menjadi sosok yang kuat artinya juga memiliki keberanian untuk mengenali batas diri dan tahu kapan harus meminta bantuan.
"Meminta bantuan bukanlah bukti kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri demi orang-orang tersayang," kata Aditya.
Artikel terkait lainnya juga bisa dicek di tautan ini.
Editor: Sekar Kinasih