diajeng.id - Belum lama ini ramai pembahasan di media sosial tentang career gap, bahkan ada yang mengaku di akun Threads tentang susahnya cari pekerjaan sebab terlalu lama break dari pekerjaan.
Beberapa di antaranya bercerita bahwa cuti lama dari bekerja tersebut diambilnya sebagai upaya untuk fokus mengurus anak dan rumah sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) atau karena mengurus orang tua yang sakit.
Memilih untuk berhenti kerja sementara waktu karena suatu alasan, kemudian memutuskan ingin kembali bekerja dengan harapan langsung diterima oleh perusahaan, realitasnya tidaklah sesederhana yang dipikir atau direncanakan.
Di sisi lain, bagi perusahaan yang akan menerima karyawan baru, bukanlah hal yang mudah untuk meloloskan seseorang setelah berhenti bekerja cukup lama.
Meski alasan perusahaan menerima dan menolak calon pegawai tidak sesimpel itu, hal ini jadi membuka topik lebih luas tentang apa yang sebenarnya bisa disampaikan ke perusahaan ketika memutuskan mau kerja lagi.
Apa Itu Career Gap?
Career gap merujuk pada masa-masa orang usia produktif yang tidak aktif bekerja.
Ada berbagai alasan yang mungkin jadi latar belakang mengapa seseorang memilih untuk mengambil career gap, seperti fokus mengurus anak dan keluarga (menjadi IRT), melanjutkan pendidikan tinggi, merawat anggota keluarga yang sakit, pindah ke luar kota, susah mencari pekerjaan, dan banyak juga karena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari kantor sebelumnya.
Di masa kini, semakin banyak orang yang mengambil jeda dalam karier, lalu memilih bekerja lagi. Pasalnya, tuntutan hidup akan terus ada. Orang-orang pun tahu mereka harus bisa bekerja lebih lama untuk bertahan hidup demi diri sendiri dan keluarganya.
Alasan Umum Memilih Jeda Berkarier
Alih-alih menutupi career gap yang pernah kamu lalui, sebaiknya bersikaplah jujur dan jelaskan kenyataan tersebut secara profesional di CV atau kepada pewawancara di perusahaan yang sedang kamu lamar.
Beberapa alasan umum seseorang career gap, salah satunya karena masalah kesehatan. Kondisi ini mau tidak mau membuat seseorang harus berhenti bekerja sementara dan fokus pada pemulihan dari sakit yang sedang dialaminya.
Merawat keluarga yang sedang sakit sering menjadi alasan seseorang untuk jeda dari pekerjaan formal.
Alasan lainnya adalah mengurus anak. Keputusan ini biasanya diambil oleh perempuan yang sudah menikah dan punya anak karena mereka lebih ingin memprioritaskan waktunya untuk membesarkan anak sebelum memutuskan kembali ke dunia kerja.
Dirumahkan (redundansi) juga bisa menyebabkan orang-orang mengambil jeda karier. Faktor-faktornya bersifat eksternal, seperti pemotongan anggaran perusahaan atau restrukturisasi yang membuat posisi pekerjaan dihapus.
Selain itu, alasan lain yang sering muncul di antaranya karena melanjutkan pendidikan, melakukan perjalanan (travelling), atau sekadar mengambil waktu untuk mengevaluasi arah karier selanjutnya.
Bagi kamu yang berada di posisi demikian, bagaimana sebaiknya menjelaskan career gap tersebut kepada perusahaan dan pihak HRD saat wawancara kerja agar bisa dipertimbangkan diterima bekerja lagi?
Cara Menjelaskan Career Gap dengan Baik
Meski pernah mengambil jeda berkarier, bukan berarti kamu tidak layak lagi saat ingin kembali bekerja secara profesional.
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk meyakinkan perusahaan bahwa kamu adalah kandidat yang potensial meski pernah berhenti bekerja.
Langkah pertama adalah jangan menutupi atau menyembunyikannya. Sebaiknya, tetap sertakan waktu ketika jeda karier. Menurut Lotus People, sangat disarankan untuk tetap menyertakan bulan dan tahun mulai serta berakhirnya setiap pekerjaan di CV kamu.
Mengaburkan tanggal justru bisa dianggap sebagai "red flag" oleh perusahaan yang kamu lamar. Hal ini malah menimbulkan kesan bahwa kamu menyembunyikan sesuatu. Sebaliknya, cantumkan dengan jelas alasan jeda untuk menegaskan niat dan kejujuranmu untuk bekerja.
Kedua, berikan penjelasan singkat di CV Untuk career gap yang lebih dari satu bulan, sertakan penjelasan singkat dalam satu baris di lembar CV kamu.
Selanjutnya, tunjukkan kegiatan produktifmu selama masa jeda bekerja, misalnya apakah kamu mengikuti kursus daring, menjadi sukarelawan, atau mengerjakan proyek lepas?
Sertakan aktivitas tersebut untuk menunjukkan bahwa kamu bisa tetap proaktif dan terus belajar. Hal ini membuktikan bahwa keterampilan kamu tetap terpakai selama sedang tidak bekerja di sektor formal.
Langkah keempat, gunakan format CV yang tepat. Kalau jeda kariermu agak panjang, pertimbangkan pakai format CV fungsional atau hibrida.
Format ini, seperti dikutip Talent500, lebih fokus pada keahlian dan pencapaian yang sudah kamu dapatkan daripada urutan kronologis waktu, sehingga perhatian perekrut tetap tertuju pada kualifikasi yang kamu miliki.
Yang terakhir, tetaplah percaya diri saat wawancara. Saat ditanya mengenai jeda tersebut dalam wawancara, sampaikan dengan tenang dan tanpa perlu penekanan untuk membela diri.
Fokuskan pembicaraan pada alasan mengapa kamu sekarang siap kembali bekerja dan mengapa posisi yang dilamar adalah langkah yang tepat bagi kariermu selanjutnya.
Career gap atau jeda karier hanyalah satu bab dalam perjalanan profesional kita semua, bukan sebuah kegagalan.
Dengan persiapan yang matang dan sikap yang positif, kamu bisa mengemas jeda tersebut menjadi bukti ketangguhan dan pertumbuhan dirimu.
Artikel lainnya seputar karier juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih