diajeng.id - Tidak bisa dimungkiri lagi, kini kita hidup di dunia yang serba cepat. Siapa pun itu seakan dituntut untuk berlari, sementara yang tertatih akan tertinggal.
Gegap gempita ini hampir terjadi di semua lini kehidupan, tak terkecuali dunia kerja yang kemudian hari melahirkan sebuah gaya hidup bernama hustle culture.
Gaya hidup itu mengacu bahwa selalu ada lebih banyak hal yang harus diperjuangkan, termasuk lebih banyak uang yang dihasilkan, gelar atau promosi jabatan lebih tinggi yang harus diraih, serta lebih banyak lagi pencapaian untuk digapai.
Secara khusus, perempuan yang punya ambisi untuk mencapai hal-hal di atas bahkan punya label tersendiri: girl boss.
Namun seiring berjalannya waktu, menurut Business Insider, budaya hiruk pikuk itu menjadi identik dengan kelelahan, jam kerja yang tidak ada habisnya, serta kaburnya batasan pribadi dan profesional.

Gebrakan baru lagi-lagi tercipta gara-gara ketidakpuasan akan kurangnya keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadi. Gebrakan ini lantas menandai kematian era girl boss yang tergantikan dengan era gadis siput (snail girl era).
Sesuai namanya, tren yang sedang berkembang ini menekankan dan mengutamakan gaya hidup yang lebih lambat, ketenangan, bahagia, dan peduli diri sendiri dibandingkan budaya hiruk pikuk dengan segala kesibukan dan ambisi yang tiada henti.
Sosok di Balik Konsep Gadis Siput
Konsep gadis siput ini dicetuskan oleh Sienna Ludbey. Ia merupakan seorang desainer dan pendiri toko bernama Hello Sisi yang menjual tas dan aksesori buatan tangan.
Dalam tulisannya berjudul "'Snail girl era': Why I'm slowing down and choosing to be happy rather than busy" untuk Fashion Journal, Ludbey mengaku pernah merasa kecanduan untuk terus mengejar kesuksesan.
Namun di satu sisi ia juga merasakan tekanan terus-menerus untuk dianggap sukses dan terlihat sibuk.
Segalanya berubah setelah pandemi berakhir. Ada momen yang membuatnya tersadar bahwa kehidupan yang memiliki tujuan tidak selalu dikaitkan dengan kesuksesan.
"Girl boss telah mati dan era gadis siput-ku telah dimulai," tulis Ludbey dalam artikelnya.
Alih-alih mengejar dan berkutat dengan kesibukan, Ludbey mengatakan kalau seorang gadis siput akan meluangkan waktunya dan berkreasi.
Generasi Z disebut sebagai generasi yang merasa "terpanggil" dengan konsep gadis siput ini.
Setelah Fashion Journal membagikan artikel Ludbey di platform TikTok dalam versi video, unggahan itu telah ditonton lebih dari 32.000 kali.
Pengguna platform, utamanya para gen Z yang terinspirasi dengan unggahan pun merespons-nya dengan membuat video gadis siput versi mereka sendiri. Misalnya saja seperti berbagi rutinitas pagi yang menenangkan, berjalan-jalan di alam, minum teh, atau perawatan kulit.

Jennifer Luke, seorang peneliti yang berspesialisasi dalam pengembangan karier di University of Southern Queensland, mengatakan tidak terkejut dengan berkembangnya konsep gadis siput.
Perlawanan di Tempat Kerja Toxic
Menurutnya, semua kembali pada fakta bahwa orang-orang sudah kehabisan tenaga. Sehingga tren gadis siput menjadi contoh perlawanan budaya hiruk pikuk atau tempat kerja toxic dengan tuntutan kerja berjam-jam dan selalu siap sedia.
Apalagi gen Z bisa dibilang merupakan generasi yang peduli dengan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kerja. Itu juga salah satu hal utama yang diingini oleh para gen Z.
Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan konsultan Deloitte terhadap lebih dari 22.000 Gen Z dan milenial di seluruh dunia menemukan ada keinginan kuat di antara generasi itu untuk mencapai keseimbangan kerja yang lebih baik.
Generasi Z (lahir antara tahun 1997 dan 2012) yang masuk dunia kerja, bahkan tidak segan-segan bertanya tentang keseimbangan kehidupan kerja saat wawancara kerja.
Meski para gen Z ini mulai bekerja di tengah persaingan kerja yang tepat, mereka tahu kekuatan yang mereka miliki dan banyak yang tidak ingin mengambil jalur tradisional seperti pendahulunya: budaya jam 9 pagi sampai jam 5 sore.
Tetapi ada kekhawatiran tersendiri di balik pilihan gaya hidup gadis siput yang dapat menimbulkan konsekuensi di kemudian hari. Dengan memilih untuk melambat, bisa diartikan bahwa gaya hidup itu tidak akan mendukung akselerasi karier dan kemungkinan mempunyai konsekuensi finansial di masa depan.
Namun kekhawatiran itu dijawab oleh Victoria McLean, CEO dan pendiri konsultan karier City CV dan CEO Hanover Talent Solutions.
Menurutnya, seseorang yang melambat memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang malah merupakan aspek penting dari karier karena memungkinkan seseorang menjadi lebih produktif.
Itu juga cara yang baik untuk mencegah kelelahan dan stres sehingga secara keseluruhan hidupnya merasa lebih puas.
Toh, Ludbey juga menambahkan bahwa menjadi gadis siput bukan berarti bersantai atau bermalas-malasan di tempat kerja atau berhenti bekerja sepenuhnya, melainkan tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri dan mengutamakan keseimbangan kehidupan serta pekerjaan.
“Anggap saja ini sebagai waktu untuk mengutamakan diri sendiri, menetapkan batasan pribadi dan profesional, dan melindungi kedamaian Anda,” tambahnya.
Jadi McLean pun memberi solusi, alih-alih memilih salah satu, seseorang bisa saja menjalani kedua peran tersebut sekaligus, menjadi girl boss tapi juga bersikap baik kepada diri sendiri seperti gadis siput.
"Kedua pendekatan itu tidak harus eksklusif. Menggabungkan keduanya, malah mungkin memberi Anda karier yang berkelanjutan dan memuaskan," katanya.
Dan yang lebih penting lagi, seseorang harus memiliki akses terhadap profesi yang bebas stres dan kesempatan untuk menjalani kehidupan pribadi yang ditandai dengan kepuasan, terlepas apa pun gendernya.
*Artikel ini pernah terbit pada tahun 2023 dan telah dilakukan pembaruan ulang.
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi
Penyelaras: Dhita Koesno