Menuju konten utama

Sisi Lain Menyibukkan Diri: Ada Masalah yang Ingin Dihindari?

Saat menyibukkan diri, otak kita bisa jadi menciptakan "baju besi" emosional untuk menjaga jarak dari memori pahit atau emosi negatif yang membuat gelisah.

Sisi Lain Menyibukkan Diri: Ada Masalah yang Ingin Dihindari?
Header Diajeng sibuk atau pelarian. foto/istockphoto

diajeng.id - Hidup kita selalu diwarnai dengan permasalahan, baik itu personal atau sosial, di lingkup keluarga atau pertemanan, dan lain sebagainya.

Di tengah permasalahan yang ada, disadari atau tidak, sebagian dari kita berusaha untuk "lari".

Menjadi sibuk atau menyibukkan diri bisa jadi salah satu cara untuk pelarian tersebut.

Meski kesibukan berkorelasi dengan produktivitas, dalam konteks ini, kesibukan bisa dipahami juga sebagai respons trauma untuk menjauh dari problem-problem internal.

Kesibukan sebagai Tameng dan Pelarian Emosional

Laman layanan kesehatan mental berbasis di Inggris, Western Tidewater Community Services Board (WTCSB) menyebutkan, sebagian besar orang mungkin pernah mengalami "flight response" atau respons melarikan diri secara emosional.

Secara psikologis, kesibukan ini berfungsi sebagai bentuk penghindaran emosional untuk melindungi diri dari perasaan yang belum diproses, seperti sedang berduka, trauma, stres kronis, rasa malu, dan keputusasaan.

Saat kita menyibukkan diri, maka otak sebenarnya sedang menciptakan "baju besi" emosional untuk menjaga jarak dari kenangan pahit atau emosi negatif yang membuat kita tidak nyaman.

Menurut penelitian, otak manusia cenderung menganggap keheningan sebagai ancaman; bahkan dalam sebuah studi yang diwartakan Reach Link, orang lebih memilih menerima sengatan listrik kecil daripada harus duduk diam tanpa melakukan apa pun.

Jadi, ketika kita berhenti beraktivitas, meski hanya sebentar, pikiran-pikiran yang selama ini tertutup, satu per satu mulai muncul lagi. Halini jugalah yang menjadi alasan mengapa banyak dari kita merasa cemas saat tiba-tiba tidak melakukan apa-apa.

Kesibukan acap kali menyembunyikan berbagai perasaan mendalam yang enggan kita hadapi, antara lain:

  • Rasa duka atas masa lalu atau impian yang tidak terwujud.
  • Rasa malu lantaran merasa diri tidak berharga jika tidak menghasilkan sesuatu, yang biasanya berakar dari rendahnya kepercayaan diri.
  • Ketakutan akan pengabaian; merasa akan dicintai jika dirinya berguna bagi orang lain.
  • Kemarahan yang terpendam yang tidak pernah aman untuk diekspresikan, sehingga energi dialihkan menjadi produktivitas yang berlebihan.
  • Kekosongan eksistensial; rasa takut akan kekosongan yang muncul saat semua tugas selesai.

Tanpa disadari, kita jadi perlu "membayar mahal" kondisi tersebut.

Kelelahan mental, mati rasa secara emosional, hingga ketegangan fisik seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan merupakan beberapa tanda bahwa tubuh kita mulai memprotes beban yang terlalu berat.

Memaknai Kesibukan dengan Sehat: Seni Beristirahat

Agar tidak terjebak dalam siklus pelarian yang merusak, kita perlu belajar membedakan antara menjadi sibuk dan menjadi produktif.

Menjadi sibuk berkaitan dengan bagaimana kita menghabiskan waktu, sedangkan produktivitas berkaitan dengan apa yang benar-benar kita capai.

Kita tidak perlu selalu sibuk untuk menjadi produktif.

Memaknai kesibukan secara sehat bisa dimulai dengan memisahkan harga diri kita dari hasil kerja.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan kesibukan dengan pemulihan diri yang baik.

Pertama, kamu bisa melatih kesadaran diri (mindfulness). Coba hadir sepenuhnya saat latihan tersebut tanpa harus menghakimi pikiran yang muncul.

Menurut VeryWell Mind, mindfulness akan membantu menenangkan sistem saraf yang terus-menerus berada dalam mode waspada.

Selanjutnya buatlah batasan (boundaries), seperti mampu berkata "tidak" untuk sesuatu yang memang tidak sanggup kamu lakukan.

Jangan sampai hanya demi menyenangkan orang lain, kamu malah mengorbankan kesejahteraan diri sendiri yang berdampak buruk dalam jangka panjang.

Jangan lupa jadwalkan istirahat secara rutin. Tida perlu menunggu sakit, baru berpikir harus istirahat. Kamu juga bisa menjadwalkan waktu luang sekitar beberapa menit di sela-sela pekerjaan agar benar-benar "berjarak" dari tugas-tugas.

Langkah lainnya adalah mengidentifikasi sumber ketidaknyamanan.

Kalau kamu merasa gelisah ketika sedang berdiam diri, cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ingin kamu hindari.

Alih-alih berusaha melarutkan diri dalam kesibukan, pertimbangkan untuk mencoba menghadapi perasaan-perasaan sulit dengan pelan-pelan. Tidak ada salahnya meminta bantuan dari terapis.

Selain itu, buatlah prioritas selama waktu luangmu untuk bisa tetap terkoneksi dengan orang-orang tepercaya.

Jika kita menginginkan hubungan yang sehat, kita harus "hadir" dengan tenang. Namun, kehadiran secara hadir ini mustahil dicapai jika pikiran kita selalu terpaku pada daftar tugas.

Mungkin kita merasa gagal atau malas dengan mengistirahatkan pikiran dan tubuh dari aktivitas segudang. Pada waktu sama, keputusan tersebut mencerminkan kebutuhan biologis agar sistem saraf kita bisa merasa aman lagi.

Artikel lainnya seputar kesehatan mental juga bisa dibaca di tautan ini.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN MENTAL atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih