Menuju konten utama

The Fourth Space: Dari Ruang Digital Menuju Perjumpaan Bermakna

Komunitas yang terbentuk dan dipertemukan di dimensi digital tetap punya peluang untuk menciptakan ruangnya di semesta luring.

The Fourth Space: Dari Ruang Digital Menuju Perjumpaan Bermakna
Header diajeng Dimensi Komunitas. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Teknologi telah memungkinkan kita berkomunikasi tanpa dibatasi jarak.

Aplikasi penunjang komunikasi zaman sekarang pun semakin berkembang. Tidak hanya untuk mengobrol, kita bisa melakukan aktivitas daring bersama. Nonton film atau main game online bareng, bahkan jalan-jalan virtual, sudah banyak difasilitasi oleh kemajuan teknologi.

Meski begitu, secaggih apapun komunikasi yang difasilitasi media digital tidak akan dapat menggantikan tingkat kualitas sebuah pertemuan yang terjadi secara langsung. Sepanjang apapun bubble chat atau durasi video call, mereka tidak dapat mereplikasi “sensasi” yang muncul dari dialog atau perjumpaan langsung.

Dilansir dari tulisan Arthur C. Brooks di The Atlantic pada 2022 lalu, teknologi telah menghilangkan kedalaman kita dalam berkomunikasi. Kendati menjadi lebih sering berkomunikasi, komunikasi daring tidak memiliki intensitas yang sama dengan komunikasi luring.

Studi di Journal of Personality and Social Psychology (2022) menemukan bahwa orang cenderung merasakan tingkat well-being lebih tinggi setelah berinteraksi secara tatap muka dibandingkan berkomunikasi lewat media digital.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa individu yang lebih sering melakukan interaksi sosial cenderung memiliki tingkat well-being rata-rata yang lebih tinggi.

Menariknya, di tengah masifnya teknologi komunikasi digital masa kini, kita selalu bisa menemukan ruang untuk terus menjalin koneksi taktil dan nyata.

Coba perhatikan, di media sosial dari Threads sampai Twitter, semakin banyak beredar ajakan untuk berkomunitas dengan kategori peminatan beragam, dari aktivitas analog seperti merajut, melukis, jurnaling, sampai aktivitas outdoor seperti jalan-jalan hingga olahraga lainnya.

Artinya, ikatan atau komunitas yang dibentuk dan dipertemukan di dimensi digital tetap punya peluang untuk menciptakan ruangnya di semesta luring.

The Fourth Space

Kita mungkin familier dengan istilah “kopdar—kopi darat”.

Pada dekade 1980 hingga 1990-an, kopdar jadi istilah populer anak muda untuk melakukan pertemuan tatap muka atas relasi-relasi yang sebelumnya terjalin lewat komunikasi via surat-menyurat, radio, walkie-talkie, atau telepon. Seiring waktu, kopdar dikenal sebagai kegiatan kumpul bareng berbagai komunitas, mulai dari pesepeda sampai penggemar otomotif.

Dalam konteks komunikasi modern masa kini, kopdar bisa beririsan dengan dimensi ruang keempat atau populer disebut the fourth space.

Sebelum mengenal fourth space, ada konsep yang lebih dulu dikenal sebagai third space.

Dimensi ketiga ini merujuk pada ruang aman untuk melakukan aktivitas santai dan menyenangkan bersama lingkaran pertemanan tepercaya, seperti mal, kafe, atau bahkan alun-alun.

Gambaran third space ini paling mudah dikenali lewat kedai kopi ikonik Central Perk yang jadi tempat nongkrong Rachel, Monica, Phoebe, Joey, Chandler, dan Ross dalam serial Friends.

Fourth space merupakan perkembangan dari konsep third space. Bedanya, dimensi ini tidak didefinisikan oleh tempat pertemuannya, melainkan oleh kualitas interaksi yang terbangun di dalamnya.

Serupa dengan kopdar, fourth space berupaya menjembatani hubungan yang awalnya terjalin secara daring menjadi pertemuan tatap muka di dunia nyata.

Inti dari fourth space adalah menciptakan ruang yang menghubungkan minat atau komunitas yang terbentuk di internet dengan pengalaman bertemu secara langsung. Melalui ruang ini, orang-orang dengan ketertarikan yang sama dapat saling bertukar cerita, membangun relasi, dan menikmati kebersamaan.

Contoh fourth space yang dapat kita temui antara lain pertemuan klub buku, komunitas musik, hingga meet-up yang diadakan oleh fandom K-pop. Sebagian besar komunitas tersebut berawal dari hubungan yang terbentuk di ruang digital sebelum akhirnya bertemu secara luring.

Interaksi Tatap Muka, Koneksi Lebih Bermakna

Mental Health Counselor Sasya Sava menjelaskan bahwa interaksi tatap muka dapat membantu generasi muda membangun koneksi yang lebih bermakna di tengah tingginya intensitas penggunaan media sosial.

“Media sosial memudahkan kita terhubung, tetapi belum tentu membuat seseorang merasa benar-benar dekat dengan orang lain. Kehadiran fourth spaces dapat membantu seseorang membangun sense of belonging melalui interaksi yang lebih autentik dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.”

Demikian terang Sasya dalam Light+perience Picnic 2026, acara fourth space estetik dari Lightplus by Wardah di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan pada 17 Juli lalu.

“Pertemuan seperti ini bukan hanya tentang bersosialisasi. Ini juga dapat menjadi bentuk self-care yang membantu seseorang lebih hadir, merasa didengar, dan lebih nyaman menjadi dirinya sendiri,” lanjut Sasya.

Menurut Sasya, kesempatan untuk hadir, berbicara, dan melakukan aktivitas bersama juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan emosional.

Diajeng Tirto juga berupaya membangun fourth space melalui “Temu Cantik Diajeng”.

Kegiatan yang rutin diadakan setiap dua bulan ini mengajak pembaca situs Diajeng dan pengikut konten edukatif @diajengtirto di Instagram untuk meluangkan waktu berkumpul, berkreasi, dan berinteraksi secara langsung.

Pada April lalu, misalnya, Temu Cantik Diajeng menghadirkan workshop jurnaling. Lewat kolase dari potongan-potongan majalah, para peserta diajak menuangkan pikiran dan perasaan mereka saat itu.

Baru-baru ini, Temu Cantik Diajeng kembali digelar dengan tema meronce. Peserta berkesempatan membuat aksesori pilihannya sendiri menggunakan beads yang telah disediakan.

Kegiatan-kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk sejenak beristirahat dari hiruk pikuk keseharian. Selain menjadi wadah kreativitas, kesempatan ini juga memungkinkan kita saling bertukar cerita, mengenal orang baru, dan membangun koneksi berarti dengan sesama.

Pada akhirnya, fourth space tidak terbatas pada narasi ruang fisik. Dimensi ini menyorot hubungan yang terbangun di dalamnya.

Ketika kita memiliki kesempatan untuk terhubung dan merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas, ruang tersebut juga dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan mental kita semua. Kamu setuju?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Diajeng
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih