Menuju konten utama

Dari Teman Jadi Kekasih, Apa yang Dipertaruhkan?

Menurut survei, sekitar 66 persen pasangan ternyata memulai jalinan asmara mereka dari hubungan persahabatan. Apa kamu juga begitu?

Dari Teman Jadi Kekasih, Apa yang Dipertaruhkan?
Header diajeng Teman Jadi Kekasih. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Mungkin di antara kita pernah berada pada satu titik ketika merasakan betul sulitnya mendapatkan pacar, teman kencan, atau kekasih. Pada waktu sama, kita sudah melakukan banyak usaha.

Situasi tersebut membuat kita terpikir, "Bagaimana kalau aku mengencani teman atau sahabatku sendiri?"

Zaman sekarang, seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi, upaya cari jodoh lewat aplikasi kencan (dating app) sangat mungkin jadi terasa menjenuhkan.

Bukan tidak mungkin, kita jadi tergoda untuk melirik teman atau sahabat sebagai pasangan yang potensial.

Hubungan bertajuk friends-to-lovers ini tidak lagi dipandang sebagai sekadar kiasan film romantis, melainkan solusi alias jalan keluar dari status lajang. Namun, apakah keputusan ini bijaksana?

Kapan Pilihan Ini Masuk Akal?

Berkencan dengan sahabat sendiri memiliki kelebihan utama karena kamu tidak perlu memulai segala sesuatunya dari nol.

Berdasarkan data ilmiah yang dimuat oleh Better Help, sekitar 66 persen pasangan ternyata memulai jalinan asmara mereka dari sebuah hubungan persahabatan. Pola hubungan ini menawarkan fondasi kokoh yang sulit ditandingi dari hubungan instan.

Pertama, faktor kepercayaan dan kenyamanan yang tinggi. Saat bersahabat, kita cenderung tampil apa adanya tanpa ada beban untuk memikat atau berpura-pura jadi sosok yang sempurna.

Pakar seksologi Nicole McNichols melalui laman SELF menjelaskan bahwa transisi dari teman menjadi kekasih membebaskan kita dari proses evaluasi kaku atau "mental checklist" layaknya kencan pertama dengan orang asing.

"Karena kamu sudah tahu bagaimana cara temanmu berkomunikasi, cara mereka mengatasi stres, apa saja nilai-nilai yang dipegangnya, serta bagaimana kehidupan mereka sehari-hari," kata Nicole.

Mengetahui hal-hal ini seperti menjadi nilai tambah untuk hubungan jangka panjang, berbeda dengan kencan awal yang diikuti pada aplikasi yang cenderung menyulitkan kita membuat penilaian pada orang baru.

Kedua, kita juga bisa merasakan transisi yang alamiah. Alih-alih merasa gugup saat bersiap-siap melakukan kencan, jalan bersama sahabat rasanya seperti hari-hari biasa saat beraktivitas bersama di sekolah atau di tempat nongkrong.

Apalagi, sahabatmu biasanya sudah mengenal keluarga dan lingkaran pertemananmu. Artinya, kamu tidak perlu cemas memikirkan bagaimana cara mengenalkan pasanganmu ke komunitasmu.

Selain itu, kamu juga bisa terbebas dari keharusan menceritakan kembali kisah masa lalu atau pekerjaanmu berulang-ulang. Kemungkinan, sahabatmu sudah tahu atau bahkan ikut mendampingimu ketika kamu melaluinya.

Kapan Harus Dikaji Ulang?

Namun, kamu juga perlu mempertimbangkan baik-baik sebelum melangkah ke arah yang lebih serius. Meski berkencan dengan teman sendiri terasa nyaman, tetap saja ada risiko yang perlu dipikirkan matang-matang.

Risiko yang paling dekat ketika memutuskan berkencan, kemudian putus, adalah kehilangan sahabat secara permanen.

Menurut artikel dari situs Love Strategies, sangat jarang ada mantan pasangan kekasih yang bisa kembali berteman dekat setelah hubungan asmara mereka berakhir.

Singkatnya, apabila hubungan romantis tersebut tidak berhasil, kamu berisiko kehilangan kekasih sekaligus sahabat terbaikmu secara bersamaan.

Selain itu, ada kecenderungan saat kekasih/sahabat melakukan "hal aneh" yang termasuk "red flags", kamu malah mengabaikannya.

Hal itu bisa terjadi karena sifat unik atau keanehan yang dia lakukan merupakan hal yang selama ini kamu anggap biasa atau lumrah. Padahal, bisa saja hal-hal tersebut merupakan pemicu kegagalan (dealbreaker) dalam hubungan asmara.

Kadang-kadang, keinginan berkencan juga hanya didorong oleh faktor kenyamanan atau rasa kesepian sementara, alih-alih karena kecocokan romantis yang sesungguhnya.

Apabila salah satu pihak hanya menganggap hubungan ini santai (atau sekadar mengarah pada friends with benefits), sementara pihak lain menginginkan komitmen emosional mendalam, maka sakit hati tidak akan terhindarkan.

Cinta yang bertepuk sebelah tangan (unrequited love) juga bisa menimbulkan kecanggungan besar yang merusak keharmonisan persahabatan kalian.

Langkah Bijak Sebelum Melangkah

Kalau kamu masih ragu-ragu dengan keputusan melanjutkan hubungan sebagai sepasang kekasih atau tetap bersahabat, sebaiknya kamu diskusikan hal ini secara lebih mendalam dengan sahabatmu tersebut.

Coba bicarakan ekspektasi masa depan, tujuan hidup, hingga masalah komitmen dan batasan baru secara terbuka.

Kalau kalian setuju menjajaki hubungan baru sebagai pasangan kekasih, pahami bahwa masa transisi ini perlu dijalani dengan pelan-pelan dan penuh kesadaran.

Dengan begitu, kalian sama-sama belajar untuk menjaga kualitas hubungan asmara yang baru sekaligus menghormati nilai persahabatan yang sudah lama kalian bina.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih