diajeng.id - Sebagian orang tua yang sedang memiliki anak usia TK atau SD mungkin pernah mengalami hal ini; anak bercerita ke gurunya tentang sesuatu yang sebenarnya rahasia keluarga.
Ya, kita mungkin memahami anak-anak tampaknya belum tahu istilah rahasia keluarga. Menurut orang dewasa, ada cerita yang sebenarnya hanya pantas dibahas di dalam lingkaran keluarga. Namun, bagi anak TK atau yang baru masuk SD, cerita itu cocok untuk diceritakan kepada guru atau teman-temannya di sekolah.
Pada dasarnya, anak-anak tidak ada niat "membocorkan" topik bahasan yang seharusnya dibatasi di dalam rumah. Tidak ada maksud mereka membuat orang tuanya malu.
Mereka hanya merasa ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan ke orang lain. Nah, sekolah adalah tempat yang sangat mungkin menjadi panggungnya.
Orang tua pun kadang-kadang baru menyadari hal itu setelah menerima pesan dari guru.
Ila (32 tahun), masih ingat bagaimana dirinya mendapat pesan WhatsApp dari guru TK anaknya, Dion. Sang guru menulis dengan nada santai, berterima kasih sekaligus menyinggung soal oleh-oleh karena Dion bercerita bahwa keluarganya akan pergi ke Thailand.
Masalahnya, keluarga Ila sebenarnya tidak sedang pergi berlibur.
“Bund, tidak perlu repot-repot kasih oleh-oleh ke saya, tadi Dion bilang minggu depan mau ke Thailand, saya mau dibawain oleh-oleh apa?” demikian pesan WhatsApp guru Dion kepada Ila, yang kemudian membuatnya tersadar kalau anaknya sudah bercerita macam-macam di sekolah.
Ila bahkan sempat berpikir, bagaimana mungkin anak TK bisa sampai menceritakan hal seperti itu kepada gurunya?
Namun, setelah rasa malu mereda, Ila tidak memilih untuk memarahi Dion. Ila merasa cukup untuk menjelaskan pada Dion bahwa tidak semua hal yang terjadi di rumah perlu diceritakan kepada gurunya.
“Bunda kan malu kalau Dion cerita ke bu guru,” begitu kira-kira penjelasan yang Ila berikan kepada anaknya.
Bagi orang tua, pengalaman semacam ini mungkin terasa lucu sekaligus bikin ingin bersembunyi saking menahan malu. Namun, bagi anak kecil, persoalannya bukan “tidak tahu malu”.
Anak-anak usia dini masih belajar memahami batas sosial. Mereka belum selalu bisa membedakan informasi mana yang merupakan urusan pribadi keluarga dan mana yang aman dibagikan kepada orang lain.
Maka dari itulah, cerita tentang ayah, ibu, rumah, perjalanan keluarga, bahkan pertengkaran orang tua, bisa saja keluar begitu saja ketika mereka sedang spontan mengobrol dengan guru.
Septi, seorang guru TK di Sleman, mengaku beberapa kali mendengar cerita “asbun” dari murid-muridnya.
Salah satunya, seorang anak pernah bercerita bahwa ayah dan ibunya bangun pagi-pagi untuk “make up hantu”, sesuatu yang membuat anak tersebut terkejut.
"Respons saya; mendengarkan cerita anak hingga selesai sebagai bentuk perhatian terhadap anak tersebut," kata Septi.
Setelah mendengarkan cerita si anak, lanjutnya, Septi biasanya memvalidasi perasaan anak tersebut apakah anak sedang dalam keadaan yang sedih atau kecewa? Atau hanya butuh didengarkan?
Jika ternyata tidak ada persoalan serius, Septi biasanya mengembalikan anak kepada aktivitasnya dan mengucapkan, "Terima kasih sudah bercerita dengan Bu Guru, untuk sekarang dilanjutkan tugas mengambarnya, ya."
Bagi Septi, cerita privasi yang tiba-tiba keluar dari mulut anak merupakan hal yang masih wajar.
"Karena anak masih berproses dalam membedakan ranah pribadi dan ranah umum baginya. Jadi merupakan hal yang wajar, selagi cerita tersebut masih tahap yg tidak terlalu pribadi," ucapnya
Pengalaman serupa juga dimiliki Ibu Dwi (58 tahun), yang belum lama purna sebagai guru TK yang sudah 32 tahun mengajar.
Bu Dwi pernah mendengar anak-anak bercerita tentang keadaan rumah mereka. Ada yang bercerita bahwa ayah dan ibunya sedang bertengkar.
Ada pula cerita lain bahkan menyangkut kehidupan asmara orang dewasa. Seorang anak pernah bercerita bahwa pamannya membawa pacar baru ke rumah.
"Bu Dwi, omku semalam udah punya pacar lagi, terus dibawa ke rumah," tambahnya.
Bagi orang dewasa, informasi seperti itu jelas terdengar sangat privat. Namun Bu Dwi tidak serta-merta menyalahkan anak karena telah bercerita.
Jika ceritanya dirasa terlalu pribadi, Bu Dwi akan menyampaikannya kepada orang tua.
"Saya biasanya [menyampaikan ke orang tua] kalau sifatnya terlalu pribadi, seperti marah-marahan jangan depan anaknya, karena anak merekam apa yang disampaikan orang tuanya," imbuh Bu Dwi.
Kadang-kadang, celetukan anak juga tidak selalu berbentuk cerita tentang keluarga.
Isna (35 tahun), misalnya, mengingat bagaimana anaknya, Sang (sekarang kelas 2 SD), dulu sering mengeluarkan komentar spontan ketika masih PAUD dan TK.
Pernah suatu ketika Sang ikut salat Jumat di masjid yang tidak biasa mereka datangi. Khutbah berlangsung sekitar 20 menit.
Saat itu, Sang ada di shaf keempat atau kelima. Tiba-tiba dia bangun, dan berkata kepada ayahnya dan suaranya agak keras, "Ayah, kok khotbahnya lama sekali sih?" kata Isna.
Pada kesempatan lain, ketika mengikuti salat tarawih di masjid yang melaksanakan 20 rakaat, Sang kembali melontarkan pertanyaan dengan suara keras.
“Ayah, kita salat kayak gini sampai pagi? Salat terus?”
Untuk orang tua, momen semacam itu mungkin membuat kepala langsung menoleh ke kanan-kiri, berharap tidak ada yang mendengar.
Namun seiring bertambahnya usia, bentuk “asbun” Sang berubah. Ketika sudah SD, Sang tidak lagi terlalu sering melontarkan celetukan spontan. Kali ini, komentarnya muncul dalam bentuk jawaban soal yang tidak sesuai dengan ekspektasi guru.
Dalam sebuah soal seni rupa, misalnya, Sang ditanya, “Seni ditemukan di mana?”
Jawaban yang diharapkan adalah tempat seperti galeri atau museum. Namun, menurut Sang, jawaban tersebut terlalu panjang. Maka Sang menulis, “Ada di mana-mana.”
Jawaban seperti itu kemudian menjadi bahan diskusi antara Sang dan kedua orang tuanya.
"Jawaban-jawaban Sang yang seperti itu jadi diskusi kami, saya dan ayahnya. Terus kami ke psikolog, dan dalam tes IQ diketahui Sang kemampuan kognitifnya superior dibandingkan teman-teman seusianya, yaitu IQ 126. Ini yang membuat dia cepat bosan, tidak suka dengan pengulangan-pengulangan, dan pikirannya "melompat-lompat"," terang Isna
Gurunya juga berdiskusi dengan Isna.
"Dan dari gurunya bilang: Sang sebenernya mudah menangkap pelajaran, cuma jawabannya kadang berbeda dari yang diminta Guru," jelas Isna.
Di rumah, Isna dan suami kemudian mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua hal perlu dikomentari.
Isna melanjutkan, ketika sudah SD, pelajarannya berkembang. Sang diberi pemahaman bahwa dalam mengerjakan soal sekolah, ia tetap perlu menjawab sesuai materi dan pertanyaan yang diberikan.
"Jika memang merasa pertanyaannya aneh dan Sang ingin menjawab berbeda, diskusi dulu dengan Ayah dan Ibu (jika itu PR). Jika pertanyaaannya di sekolah, nanti kami review dari buku tulisnya," tukasnya.
Pada akhirnya, persoalan anak “membocorkan” cerita keluarga di sekolah sebenarnya tidak sepenuhnya "salah". Kemampuan bercerita itu sebaiknya dipelihara dalam konteks dan ruang yang tepat.
Guru pun berada di posisi yang tidak kalah penting. Mereka mendengar banyak cerita yang bagi anak terasa biasa, tetapi bagi orang dewasa bisa memiliki makna berbeda.
Maka dari itulah, ketika seorang anak tiba-tiba mengatakan sesuatu tentang ayah, ibu, atau keadaan rumahnya, mungkin respons pertama tidak harus berupa kepanikan.
Bisa jadi, anak memang hanya sedang bercerita. Bisa juga, anak sedang mencari orang yang mau mendengarkannya.
Dalam beberapa kasus, cerita polos yang anak sampaikan ke orang lain bisa menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu di rumah yang perlu diperhatikan.
Simak juga artikel lainnya seputar anak di sini.
Editor: Sekar Kinasih