Menuju konten utama

Kembalinya Subkultur Emo: Melampaui Tren, Menjadi Ruang Aman

Emo memvalidasi perasaan orang-orang yang terhubung dengan aliran musik ini. Tema lagu-lagunya dekat dengan pemberontakan batin, cinta, dan alienasi.

Kembalinya Subkultur Emo: Melampaui Tren, Menjadi Ruang Aman
Header DIAJENG emogurl. tirto.id/Quita

diajeng.id - Emo mulai berkembang pada tahun 1980 sebagai salah satu aliran musik yang berakar dari hardcore punk.

Namun, berbeda dengan hardcore punk, emo memiliki karakteristik musik yang introspektif. Introspektif artinya musik emo menggerakkan pendengarnya untuk merenungkan perasaannya secara mendalam.

Maka dari itu, subkultur ini disebut emo, kependekan dari rangkaian kata “emotional hardcore”.

Emo menjadi populer lewat caranya memvalidasi perasaan orang-orang yang terhubung dengan aliran musik ini. Tema lagu-lagu emo biasanya tidak jauh dari pemberontakan batin, cinta, dan alienasi. Lirik dan gaya emo menjadi ruang aman bagi para penggemarnya.

Popularitas emo di awal kemunculannya didukung oleh band hardcore masa itu, seperti Rites of Spring dan Embrace.

Emo yang awalnya merupakan aliran musik underground ini mulai dikenal banyak orang, terutama remaja Milenial, pada era tahun 2000-an dengan naik daunnya band Fall Out Boy dan My Chemical Romance.

Puncak dari emo terjadi sepanjang 2001-2008. Emo tidak hanya tumbuh sebagai aliran musik, melainkan juga subkultur anak muda yang memiliki gaya ekspresi tersendiri.

Fesyen emo identik dengan warna-warna gelap, pakaian skinny jeans, kaos band, dan aksesori eksentrik. Gaya berpakaian emo juga acap kali menggabungkan motif tertentu, seperti garis-garis hitam putih.

Emo tentu tidak lengkap tanpa gaya rambutnya yang unik. Hairstyle emo memiliki ciri khas rambut bertekstur yang menciptakan dimensi berlapis. Meskipun penganut gaya emo kebanyakan memiliki rambut berwarna hitam, biasanya ada yang memberikan sentuhan warna pirang atau neon.

Lalu tentu saja, hairstyle emo kurang lengkap tanpa poni samping yang menutupi sebagian wajah.

Nostalgia lewat Kebangkitan Emo

Terhitung sudah dua dekade berlalu semenjak puncak popularitas era emo. Kendati begitu, emo ternyata masih bertahan, bahkan mulai semakin keras gaungnya.

Judith Fathallah dalam tulisannya di The Conversation pada 2022 menyatakan bahwa nostalgia dan teknologi menjadi dua faktor yang menggerakkan kebangkitan emo pada era modern.

Milenial yang semasa mudanya menyukai emo mulai bernostalgia dengan memutar lagu-lagu band lama di playlist Spotify. Pada waktu sama, Gen Z ikut terdorong ke dalam pusaran gelombang nostalgia ini.

“Kebangkitan ini diuntungkan oleh nostalgia Gen Z (anak-anak yang lahir setelah 1996) atas masa muda yang tidak pernah mereka alami. Kejadian ini serupa dengan tren emo pada awal 2000-an yang membangkitkan nostalgia terhadap kehidupan remaja di skena punk basement era 1980-an, meski aku dan teman-teman seangkatanku sendiri tidak pernah mengalami masa tersebut,” jelas Fathallah yang mendaku sebagai angkatan Milenial di usia 30-an.

Selain itu, popularitas emo hari ini tidak bisa dipisahkan dari fakta semakin banyaknya band emo tahun 2000-an yang aktif lagi belakangan ini.

Sebut saja My Chemical Romance yang mulai rutin tampil di panggung lagi sejak akhir 2019. Band lainnya, seperti Fall Out Boy turut merilis album baru berjudul So Much (for) Stardust pada tahun 2023.

Selain itu, festival-festival musik emo kembali digelar. Salah satunya berlangsung pada 2025 lalu di AS, festival When We Were Young, yang berhasil menghadirkan sampai 60 ribu penonton.

Festival ini menampilkan deretan band emo terkemuka, mulai dari My Chemical Romance, Panic! At The Disco, sampai solois pop-punk, Avril Lavigne.

It’s Not Just A Phase!

Emo bukan hanya tren sekejap. Subkultur ini menjadi ruang ekspresi, tempat orang-orang bisa menjadi dirinya sendiri.

Never A Phase, sebuah komunitas emo asal Hull, Inggris, rutin bertemu untuk mengumpulkan anak-anak emo. Komunitas ini berperan sebagai sarana menjalin hubungan antara para penggemar emo.

Sophie Baxter, pencetus Never A Phase, merasa komunitas semacam ini penting agar para emo dapat merasa nyaman mengekspresikan dirinya. Menurutnya, emo juga adalah bagian dari jati diri.

“Aku rasa, orang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai pelaku gaya hidup alternatif kadang-kadang melihat emo sebagai bagian dari pemberontakan atau gerakan, tetapi menurutku bukan begitu, emo hanyalah gaya hidup dan cara kita mengekspresikan diri,” jelas Baxter kepada BBC dalam artikel liputan bulan Agustus kemarin.

Subkultur emo nampaknya akan selalu memberikan makna bagi para peminatnya.

BBC mencatat, semakin sering ditemukan pameran-pameran emo, seperti eksibisi bertajuk I’m Not Okay: An Emo Retrospective di London. Acara yang berlangsung sepanjang tahun 2024-25 ini dihadiri oleh 35 ribu orang.

AJ Turner, musisi yang datang mengunjungi pameran, menyebut emo bagian dari hidup; komunitas yang membantunya keluar dari masa-masa kelam.

“Aku biasanya pakai kaos dengan tulisan ‘MCR (My Chemical Romance) saved my life’ ke acara-acara, sampai sekarang,” jelas Turner.

Ya, lebih dari sekadar tren atau genre musik, emo adalah gaya hidup sekaligus ruang aman bagi banyak orang untuk merasa diterima dan tidak dihakimi. Apa kamu juga pernah, atau masih, menjadi anak emo yang merasakan hal serupa?

Baca juga artikel terkait DIAJENG PEREMPUAN atau tulisan lainnya dari Maria Gratia Rosarina

diajeng.id - Binar
Kontributor: Maria Gratia Rosarina
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih