diajeng.id - Pernah bertanya-tanya kenapa anak bungsu sering dianggap lebih manja, pandai mencari perhatian, atau malah lebih percaya diri dibandingkan kakak-kakaknya?
Anggapan ini ternyata sudah lama menjadi perhatian komunitas psikolog.
Hampir 90 tahun lalu, psikolog Alfred Adler mengemukakan teori bahwa urutan kelahiran dapat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian kita.
Dari sinilah muncul berbagai teori mengenai karakter anak berdasarkan posisinya dalam keluarga, seperti eldest daughter syndrome sampai youngest child syndrome atau sindrom anak bungsu.
Ya, anak yang lahir paling akhir sering digambarkan sebagai pribadi yang mudah bergaul, kreatif, percaya diri, serta pandai memecahkan masalah.
Namun, di balik karakter positif tersebut, ada pula anggapan bahwa anak bungsu cenderung lebih dimanja dan berani mengambil risiko.
Sebenarnya, seberapa jauh urutan kelahiran bisa membentuk kepribadian anak bungsu? Apakah hal tersebut memengaruhi lika-liku hidupnya? Berikut penjelasannya.
Dampak Perlakuan Keluarga terhadap Anak Bungsu
Menjadi anak bungsu sering membuat kita diperhatikan dan dilindungi lebih sering oleh orang tua, kakak, atau orang-orang dewasa lainnya di dalam keluarga.
Namun, jika terlalu dimanjakan atau selalu dibantu, perlakuan tersebut dapat memengaruhi kemandirian, cara mengambil keputusan, dan kemampuan anak menghadapi masalah.
Berikut dampak yang mungkin terjadi akibat perlakuan tertentu orang tua terhadap anak bungsu.
1. Manja dan Suka Mencari Perhatian
Anak bungsu sering dianggap lebih manja dan gemar mencari perhatian. Kakak-kakaknya sudah lebih dulu mendapatkan tempat dalam keluarga, sehingga mereka mungkin berusaha lebih keras untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua.
2. Kurang Mandiri dan Bertanggung Jawab
Anak pertama atau anak-anak lebih tua biasanya lebih banyak membantu pekerjaan rumah atau mengurus adik. Akibatnya, si bungsu cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar mandiri. Situasi ini bisa membuat mereka terbiasa dibantu dan kurang terlatih menghadapi berbagai hal sendiri.
3. Persaingan dengan Saudara
Perlakuan orang tua yang dianggap lebih memanjakan anak bungsu juga dapat memicu kecemburuan dari kakak. Apabila kakak merasa adiknya mendapat perlakuan istimewa, persaingan dan konflik antarsaudara pun lebih mungkin terjadi.
4. Berani Mengambil Risiko
Tidak selalu membawa dampak negatif, anak bungsu juga kerap dikenal lebih berani mengambil risiko dan memiliki jiwa wirausaha. Mereka cenderung lebih terbuka untuk mencoba hal baru, termasuk memulai bisnis sendiri.
5. Pandai Memecahkan Masalah
Anak bungsu juga sering dianggap kreatif karena banyak belajar dengan mengamati kakak-kakaknya. Dari pengalaman tersebut, mereka dapat menemukan cara berbeda dan lebih kreatif ketika menghadapi suatu masalah.
6. Pandai Bergaul
Perhatian yang lebih banyak diterima dari orang tua dan saudara dapat membuat anak bungsu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mudah bergaul, dan pandai mencairkan suasana. Karakter ini membuat mereka sering dianggap lebih ramah dan menyenangkan dalam lingkungan sosial.
Tantangan yang Dihadapi Anak Bungsu
Menjadi anak bungsu bisa memberikan pengalaman yang berbeda dalam keluarga.
Perhatian dan bantuan yang lebih banyak dari orang tua maupun kakak kadang-kadang membuat mereka terbiasa bergantung pada orang lain, sehingga mereka menjadi kurang terlatih mengambil keputusan sendiri.
Di sisi lain, ketika kakak mulai mandiri, anak bungsu bisa menjadi anggota keluarga yang lebih sering diandalkan untuk mengurus orang tua, mengatur kegiatan keluarga, atau menyelesaikan berbagai masalah.
Mereka juga mungkin merasa harus selalu menjadi sumber keceriaan dan menjaga suasana tetap menyenangkan, bahkan ketika sedang lelah atau mengalami emosi negatif.
Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat membuat anak bungsu kesulitan menetapkan batasan, memahami kebutuhan diri sendiri, dan menentukan apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Penulis: Risa Fajar Kusuma
Editor: Sekar Kinasih