Menuju konten utama
Percintaan Manusia Modern

Belum Resmi Putus, Sudah Ada yang Baru? Inilah Monkey Branching

Monkey branching terjadi ketika seseorang sengaja mengamankan calon pasangan baru saat masih menjalani komitmen dengan pasangannya saat ini.

Belum Resmi Putus, Sudah Ada yang Baru? Inilah Monkey Branching
Header diajeng Monkey Branching dalam Relasi. FOTO/iStockphoto

diajeng.id - Apa kamu pernah kenal dengan orang yang terkesan mudah sekali mendapatkan kekasih atau pasangan baru, padahal dia baru saja putus cinta?

Dalam dunia perkencanan modern, fenomena ini disebut monkey branching atau monkey barring.

Istilah ini mengambil analogi dari seekor monyet yang berayun dari satu dahan ke dahan lain. Monyet tersebut tidak akan melepaskan dahan yang lama sebelum menggenggam dahan baru dengan cukup kuat agar tidak terjatuh.

Dalam konteks hubungan asmara, seperti dinukil artikel "Are You Being ‘Monkey Branched?’ Understanding the Signs of This Subtle Form of Cheating" di situs VeryWell Mind, monkey branching terjadi ketika seseorang sengaja mempersiapkan atau mengamankan calon pasangan baru saat dia masih menjalani hubungan berkomitmen dengan pasangan saat ini.

Meskipun pelakunya sering berkilah bahwa mereka hanya "menjaga pilihan tetap terbuka", tindakan ini sebenarnya merupakan bentuk pengkhianatan kepercayaan dan perselingkuhan emosional karena adanya investasi energi dan perhatian secara rahasia kepada orang lain.

Mengapa Ada Orang yang Melakukan Monkey Branching?

Di balik perilaku yang kelihatan curang atau tidak adil ini, terdapat dinamika psikologis yang agak kompleks di balik dorongan seseorang untuk melakukan monkey branching.

Alyssa Landry, psikolog sekaligus konselor profesional di Thornton, Colorado, melalui laman LifeStance Health menyebutkan, salah satunya karena ketakutan akan kesendirian yang berlebihan (fear of being alone).

"Beberapa faktor psikologis, termasuk ketakutan akan kesendirian, kurangnya komitmen, dan ketidakpuasan dalam hubungan," ucap Landry.

Rata-rata pelaku monkey branching sering merasa sangat cemas atau tidak mampu jika harus hidup melajang.

Bagi mereka, menjalani masa transisi sendirian setelah putus cinta adalah pengalaman yang terlalu berat. Maka dari itulah, mereka memilih jalan pintas dengan "menggunakan" orang baru sebagai tameng emosional agar tidak pernah merasa kesepian.

Alasan selanjutnya, karena ada masalah kepercayaan diri yang menurun dan attachment issues. Orang dengan harga diri rendah biasanya membutuhkan validasi eksternal untuk merasa berharga. Memiliki pasangan adalah cara mereka mencari pengakuan tersebut.

Selain itu, teori psikologi menunjukkan bahwa orang dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment) atau menghindar (avoidant attachment) lebih rentan melakukan ini untuk meredam kecemasan akan penolakan atau menghindari komitmen yang terlalu dalam.

Pelakunya juga melakukan hal ini demi menghindari konflik perpisahan. Mengakhiri sebuah hubungan membutuhkan keberanian untuk menghadapi percakapan yang terbuka, sulit, dan tentunya menguras emosi.

Dengan beralih fokus kepada orang baru, pelaku dapat melarikan diri dari proses perpisahan yang tidak nyaman dan melelahkan.

Mereka juga menjadi candu akan sensasi dari menjalani hubungan yang baru (pursuit of novelty and excitement).

Bagi sebagian orang, sensasi ketertarikan awal, godaan, dan perhatian dari orang baru terasa sangat menyenangkan dan seperti jadi adiktif, terutama ketika hubungan mereka yang sekarang sedang berada di fase yang jenuh atau penuh tantangan.

Apa yang Bisa Dilakukan Kalau Kamu Jadi Korbannya?

Menjadi pihak yang dirugikan atau ditinggalkan dalam praktik monkey branching tentu sangat menyakitkan. Rasanya seolah-olah diri kita dapat digantikan begitu saja, semudah itu.

Berikut adalah langkah-langkah sehat yang bisa dipertimbangkan untuk berproses memulihkan diri:

Validasi Rasa Sakit dan Sadari Ini Bukan Salahmu

Masih melansir VeryWell Mind, jika berada dalam posisi korban, kita sebaiknya tidak menutupi, apalagi merasa bahwa semua baik-baik saja. Tidak apa-apa dan sangat wajar jika ingin marah, merasa sedih, atau kecewa. Satu poin penting, kita perlu melampiaskannya secara sehat.

Ingatlah bahwa keputusan mantan untuk melakukan perselingkuhan emosional ini adalah refleksi dari ketakutan, rasa tidak aman, dan ketidakmampuan mereka sendiri dalam mengelola emosi secara mandiri, alih-alih karena nilai diri kita yang kurang.

Terapkan Aturan Tanpa Kontak

Melihat mantan langsung bahagia dengan pasangan barunya hanya akan memperlambat proses penyembuhan rasa sakit.

Langkah bijak bisa kita ambil dengan membatasi akses komunikasi secara keseluruhan, blokir media sosial mereka, dan hindari mencari tahu kabar mereka agar kita bisa kembali fokus sepenuhnya pada diri sendiri.

Jangan Membandingkan Diri dengan "Dahan Baru"

Sangat mudah untuk terjebak dalam pikiran membandingkan diri dengan pasangan barunya. Ingatlah bahwa kehadiran orang baru tersebut bukan berarti mantan telah melakukan "upgrade" atau menemukan orang yang lebih baik, melainkan karena mereka tidak sanggup untuk hidup mandiri tanpa status hubungan.

Fokus pada Perawatan Diri (Self-Care) dan Dukungan Sosial

Gunakan waktu "berduka" ini untuk membangun kembali kepercayaan diri kita. Jangan lupa juga merawat diri. Dekatkan diri dengan keluarga dan sahabat yang tulus menyayangi kita, lakukan hobi yang sempat terabaikan, dan bangun rutinitas baru yang positif.

Pertimbangkan untuk Menjalani Terapi

Seandainya trauma pengkhianatan ini membuat kita sangat kesulitan untuk kembali percaya pada orang lain atau merusak harga diri kita dalam jangka panjang, situs HuffPost menekankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental. Pakar bisa membantu kita memproses emosi secara lebih terstruktur.

Selain itu, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta dapat menjadi cara efektif menenangkan diri yang sedang emosional, berdoa dan meminta petunjuk-Nya juga dipercaya bisa cepat meredakan emosi.

Memulihkan diri dari monkey branching memang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Namun, dengan berdiri tegak di atas kaki sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, kita sebenarnya sedang membangun fondasi emosional yang jauh lebih kuat untuk hubungan lebih sehat di masa depan.

Artikel lainnya seputar relationship juga bisa dibaca di sini.

Baca juga artikel terkait RELATIONSHIP atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

diajeng.id - Diajeng
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Sekar Kinasih