diajeng.id - Pandemi COVID-19 menjadi titik balik dalam perjalanan karier Rachel Stefanie Halim (44).
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai coach motivasi yang mengisi pelatihan di berbagai perusahaan dan institusi, seluruh jadwal perempuan penyandang disabilitas netra ini mendadak terhenti akibat pembatasan aktivitas.
Di tengah ketidakpastian, Rachel memilih untuk tidak larut dalam keadaan. Rachel mulai mencari cara agar tetap produktif dari rumah sekaligus tetap dapat berkarya. Jawaban itu ternyata sudah ada di dapurnya sendiri.
"Aku berpikir, bagaimana, ya, supaya aku bisa tetap produktif walaupun hanya lewat rumah sendiri. Kebetulan aku ini suka buat chicken nugget buat anakku sendiri, supaya aku tahu bahan-bahan apa saja yang dipakai," ujar Rachel dalam wawancara dengan Diajeng baru-baru ini.
Berbekal keberanian menawarkan nugget buatan sendiri kepada teman-temannya, Rachel mendapat sambutan yang hangat. Dari uji coba simpel itulah perjalanan Rachel sebagai pebisnis rumahan dimulai.
Rachel semakin percaya diri untuk mengembangkan usahanya. Seiring waktu, ia bertemu dengan chef yang kemudian membantu menyempurnakan resep chicken nugget buatannya dan kini diberi merek dagang "Nugget Keraton".

"Dia (chef) memberi saya hadiah timbangan bicara untuk tunanetra. Jadi saya bisa lebih mandiri. Yang tadinya cuma ditakar pakai sendok, pakai gelas, setelah ada timbangan bicara ini, benar-benar saya bisa menimbangnya secara presisi sesuai resep," ujarnya.
Dukungan lainnya juga datang dari merek peralatan rumah tangga yang memberikannya food processor untuk proses pembuatan chicken nugget.
Hal ini pun semakin memudahkan Rachel dalam memproduksi chicken nugget, dari yang awalnya mengunakan tangan atau parutan untuk memotong bahan-bahan, kini terbantu dengan adanya food processor.
Melihat Peluang Bisnis dari Kebiasaan Memasak untuk Keluarga
Bagi Rachel, memilih nugget sebagai produk usaha bukanlah keputusan yang muncul begitu saja. Seperti dijelaskannya di atas, ia terbiasa membuat chicken nugget untuk anak semata wayangnya di rumah agar dapat memastikan kualitas bahan yang digunakan.
Selain itu, Rachel juga menangkap geliat pasar terhadap makanan beku di Indonesia semakin meningkat, terutama di masa pandemi.
Menurut perempuan dengan retinitis pigmentosa (kelainan genetik langka di retina mata yang bisa menyebabkan kebutaan) ini, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengutamakan kepraktisan membuat frozen food tetap memiliki prospek menjanjikan.
"Zaman sekarang ini semua serba sibuk, apalagi di kota besar. Gaya hidupnya berubah semenjak pandemi, semua harus bekerja, enggak cuma suami yang kerja, tapi juga istri harus bekerja supaya mendapatkan dual income. Jadi sudah enggak ada waktu untuk masak, pulang kerja maunya serba praktis. Nah, ini solusinya, ya chicken nugget Keraton," ucapnya sembari mempromosikan dagangannya.
Meski pasar chicken nugget sudah semakin menjamur, Rachel berusaha menghadirkan pembeda melalui kualitas.
Rachel menggunakan ayam segar dari pemotongan pertama setiap kali ada pesanan, bahkan membuat roti tawarnya sendiri untuk memastikan bahan yang digunakan tetap terjaga.
Tantangan yang Dihadapi
Di balik setiap kemasan chicken nugget yang diterima pelanggan, seluruh proses produksi masih Rachel kerjakan sendiri hingga kini dan ini jadi tantangan baginya.
Mulai dari menyiapkan bahan baku, mengolah adonan, mengukus, memotong nugget, melapisinya dengan tepung panir, mengemas produk dan memberi label stiker di kemasan, hingga menghasilkan sekitar 15 loyang nugget dalam sehari.
Bagi Rachel, setiap pesanan adalah bentuk komitmen untuk menghadirkan makanan praktis yang tetap bergizi dan aman dikonsumsi keluarga.
Rachel pun menegaskan bahwa nugget buatannya termasuk makanan bergizi karena dibuat dari bahan-bahan pilihan berkualitas.
"Nugget saya ini bukan cuma daging ayam isinya, tapi juga ada wortel, ada telur, ada roti tawar. Jadi kalau buat anak-anak bekal, karyawan kantoran mau bawa bekal supaya hemat, anak kos, kan, gampang tinggal goreng. Sekali hap, sudah memenuhi gizi gitu. Itu yang jadi alasan kenapa saya memilih nugget, selain dekat dari diri saya sendiri dan keluarga, tapi juga secara data penjualan meyakinkan dan menjanjikan," terang pemenang program DisBerdaya 2026 yang diprakarsai aplikasi dompet digital DANA ini.
Menurut Rachel, salah satu tahap yang paling menantang adalah memotong nugget agar ukurannya seragam. Melalui proses mencoba dan berlatih, ia akhirnya menemukan teknik yang membuat hasil potongannya lebih rapi.
"Ya, lumayan sekarang hasilnya lebih rapi, saya bentuk stick panjang-panjang. Itu juga ukurnya pokoknya selebar jari," imbuhnya.
Selain itu, proses melapisi dengan tepung panir juga membutuhkan tenaga yang ekstra. Pada tahap ini, Rachel biasanya sudah mulai capek karena harus berdiri selama berjam-jam. Meski demikian, ia tetap menyelesaikan setiap tahapan hingga pengemasan.
Pada proses akhir, sang suami turut membantu menyegel kemasan, menempelkan stiker, dan mencantumkan tanggal produksi sebelum nugget siap dikirim kepada pelanggan.
Terkait strategi pemasaran produk, Rachel menggunakan sistem reseller dengan mengajak teman-teman disabilitas lainnya.
"Jadi saya yang buat, mereka yang memasarkan. Lalu ada sosmed, Instagram, ya saya ingin kembangkan lagi lewat TikTok juga, grup WhatsApp sudah pasti itu. Lalu lewat kafe, saya sudah bekerja sama dengan satu kafe yang ada di Karawaci. Kebetulan ini adalah kafe yang memberdayakan juga orang-orang disabilitas. Mereka mengambil nugget saya untuk jadi salah satu pilihan menu mereka," kata Rachel.
Tantangan lainnya yang dirasa cukup sulit bagi Rachel adalah masalah perizinan dan untuk mendapatkan sertifikat halal.
Rachel mengaku sudah pernah ikut mengajukan perizinan, hanya saja ditolak, karena bahan dasar produknya adalah unggas, sehingga harus ikut program berbayar.
Rachel pun berharap, dengan adanya dukungan dari DANA, masalah perizinan juga bisa segera dilancarkan ke depannya.
Banyak yang Meragukan Kemampuannya Berbisnis
Diragukan oleh orang lain bukanlah realitas asing bagi Rachel. Sejak kecil, ia mengaku sudah terbiasa menghadapi pertanyaan tentang kemampuannya sebagai penyandang disabilitas netra, mulai dari saat mendaftar sekolah hingga mengikuti berbagai kegiatan.
Penolakan pun pernah ia alami. Namun, alih-alih larut dalam stigma tersebut, Rachel memilih menjadikannya sebagai motivasi untuk terus membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Baginya, cara terbaik menjawab keraguan bukanlah dengan banyak penjelasan atau alasan, melainkan melalui hasil nyata.
Rachel memanfaatkan berbagai teknologi penunjang, seperti timbangan bicara dan food processor, untuk membantunya bekerja lebih mandiri dan menjaga kualitas produk.
Menurutnya, setiap penyandang disabilitas memiliki cara masing-masing untuk beradaptasi. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus mencari solusi, bukan terpaku pada keterbatasan ataupun stigma yang masih melekat di masyarakat.
"Hanya itu, satu-satunya cara membuktikan bahwa kita mampu. Kita pun bisa melakukan seperti yang dilakukan non-disabilitas lainnya. Yang penting kan intinya kita mau berusaha dan memang kita disabilitas, tapi kita juga punya cara lain untuk mengatasi keterbatasan kita," tegasnya.
Menurut Rachel, ada pelajaran yang bisa dipetik dari usahanya menjalankan bisnis chicken nugget. Proses ini justru membuatnya semakin bersyukur dengan segala tantangan yang dihadapinya sebagai seorang disabilitas. Rachel yakin, setiap ciptaan Tuhan punya tujuan.
Ada Perbedaan Antara Dikasihani dan Didukung
Saat Diajeng bertanya lebih lanjut tentang perbedaan antara dikasihani dan didukung, Rachel dengan tegas menjawab ada perbedaan mendasar antara dikasihani dan didukung.
Menurutnya, rasa kasihan membuat penyandang disabilitas terus dipandang dari keterbatasannya, sedangkan dukungan lahir dari kepercayaan bahwa mereka juga memiliki kemampuan untuk berkembang dan berkarya.
Maka dari itu, Rachel berharap penyandang disabilitas tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, dan berwirausaha.
Baginya, akses terhadap pelatihan, pendampingan, jejaring, serta kepercayaan jauh lebih berarti daripada sekadar bantuan materi.
Dengan kesempatan yang sama, ia yakin penyandang disabilitas mampu mandiri, berkontribusi bagi keluarga dan masyarakat, serta menjadi mitra dalam membangun bangsa, bukan dipandang sebagai beban.
Makna Menjadi Perempuan Berdaya
Ketika membahas tentang banyaknya orang yang mengaitkan perempuan berdaya dengan kemandirian ekonomi, menurut Rachel, mandiri secara ekonomi memang hal yang penting, tetapi bukan satu-satunya.
Baginya, perempuan yang berdaya adalah mereka yang berani berdiri tegak di tengah segala tantangan yang ada, pantang menyerah, terus berjuang, mau terus belajar meningkatkan kemampuannya, dan dengan kemampuannya itu, mereka bisa bermanfaat buat orang lain.
Sebagai seorang tunanetra, lanjutnya, Rachel tidak melihat keterbatasan sebagai penghalang untuk berkembang.
Justru keterbatasannya tersebut bisa menjadi batu loncatan untuk ia terus belajar dan berkarya agar bisa menjadi wanita yang tangguh dan menginspirasi banyak orang.
"Mimpi terbesar saya itu adalah saya ingin punya gerai nugget sendiri. Dan itu bisa menjadi peluang untuk membuka lapangan pekerjaan, khususnya untuk teman-teman sesama disabilitas. Ya, doakan saja," ucap Rachel.
Ke depan, Rachel juga berharap, karya-karya para penyandang disabilitas bisa membuka wawasan masyarakat tentang siapa disabilitas.
"Disabilitas bukannya mereka yang tidak mampu melakukan apapun, tetapi justru disabilitas adalah mereka yang memiliki ketangguhan tersendiri. Karena mereka sudah dipilih Tuhan spesial, dengan keterbatasan mereka, mereka mampu berjuang di tengah dunia ini. Jangan lihat keterbatasan kami, tapi lihat apa yang kami miliki dan dukung kami. Beri kami kesempatan untuk membuktikannya," harap Rachel.
Terakhir, Rachel juga mengingatkan kepada para perempuan disabilitas bahwa dalam dirinya ada kekuatan dan daya yang besar.
Kekuatan itu bisa dikembangkan hingga menjadi suatu ledakan besar dalam hidup untuk membuat mereka jadi perempuan yang tangguh serta bisa menginspirasi orang lain.
Artikel lainnya seputar perempuan juga bisa dibaca di sini.
Editor: Sekar Kinasih