diajeng.id - Popularitas film The Odyssey (2026) menarik perhatian banyak orang kepada berbagai jenis karya sastra.
Film itu sendiri dibuat berdasarkan epos yang lahir dari tradisi sastra Yunani, diyakini berasal dari penyair Homer. The Odyssey menceritakan kisah perjalanan pulang Odysseus yang melewati begitu banyak tantangan.
Berdasarkan The Guardian, film tersebut berkontribusi mendorong penjualan buku puisi. Terdapat kenaikan sebanyak 13,3 persen dalam penjualan buku puisi di Inggris. Sementara itu, buku puisi The Odyssey mengalami penjualan kenaikan sebanyak 76 persen di Amerika Serikat.
Dari sekian banyak karya sastra lama dan puisi klasik yang menggugah jiwa, tak kalah mengesankan adalah puisi-puisi modern karya sastrawan masa kini. Berikut adalah lima penyair perempuan rekomendasi Diajeng, ada yang sudah pernah kamu baca karyanya?
Koleka Putuma
Penyair yang lahir dari Afrika Selatan ini mengeksplorasi isu gender dan ras lewat puisi-puisinya. Tulisan Koleka dianggap tegas layaknya pernyataan dari gagasan yang dibawanya.
Kumpulan puisi pertamanya diterbitkan pada tahun 2017 berjudul Collective Amnesia. Buku puisi ini terbagi menjadi tiga bagian: Inherited Memory, Buried Memory, dan Postmemory.
Ragam puisi Koleka menceritakan kenangan yang dibentuk dari upaya bertahan hidup sehari-hari. Collective Amnesia mengacu pada hilangnya kenangan-kenangan yang dimiliki karena harus berhadapan dengan berbagai tekanan ketidakadilan.
Buku debutnya ini mendapatkan penghargaan Glenna Luschei Prize for African Poetry pada tahun 2018. Sejak saat itu, Putuma menerbitkan berbagai buku seperti Hullo, Bu-Bye, Koko, Come In (2021) dan We Have Everything We Need to Start Again (2024).
Tishani Doshi
Tishani merupakan seorang penulis, jurnalis, dan penyair yang lahir dan besar di India. Selain berkarya di ranah sastra, Tishani memiliki pengalaman sebagai penari untuk grup asuhan Chandralekha, koreografer legendaris asal India.
Salah satu buku terpopulernya adalah Girls Are Coming Out of The Woods (2017), mengenai pengalaman kekerasan yang sering dialami perempuan. Puisi di dalamnya didedikasikan pada perempuan di sekitarnya yang meninggal dunia karena dianiaya.
Girls Are Coming Out of The Woods menyiratkan perasaan murka yang dialami Tishani. Apalagi, puisinya didasarkan pada rasa sakit setelah mengetahui teman terdekatnya, Monika Ghurde meninggal karena dibunuh.
Pada tahun ini, Tishani merilis buku puisi terbaru yang berjudul Egrets, While War. Sesuai judulnya, Tishani menuliskan tentang konflik dan duka manusia modern lewat simbolisasi burung.
Maggie Nelson
Bluets (2009), buku puisi karya Maggie menjadikan warna biru sebagai fokus utama dalam mengeksplorasi pengalamannya. Biru menggambarkan perasaannya tentang cinta, keinginan, bahkan kehilangan.
Warna biru ternyata telah menemani Maggie sedari lama; lewat bukunya yang berwarna biru, bahkan dirinya sering menulis dengan tinta biru. Bluets menempatkan biru sebagai warna yang penuh makna untuk Maggie.
Maggie telah menekuni karier penyair sejak dekade 1990-an; memulai karier di New York hingga kini tinggal di Los Angeles. Saat berumur 12 tahun, Maggie pernah memenangkan lomba tulis puisi yang diadakan oleh band favoritnya, The Cure.
Di samping buku puisi, Maggie menulis karya lainnya seperti memoir The Red Parts (2007), kritik seni The Art of Cruelty: A Reckoning (2011), dan auto-teori The Argonauts (2015).
Sascha Aurora Akhtar
Sascha merupakan penyair asal Pakistan yang sekarang tinggal di Amerika Serikat. Sascha telah menulis sebanyak 7 buku sepanjang karirnya.
Buku debut puisi Sascha berjudul The Grimoire of Grimalkin (2007). Buku tersebut memiliki karakteristik gothic yang diambil dari gaya grimoire (buku sihir) dari abad ke-16. Puisi di dalamnya ingin menonjolkan peran bahasa sebagai kekuatan penggerak manusia.
Buku selanjutnya, Whimsy of Dank Ju-Ju (2019) mempertunjukkan puisi-puisi energetik. Sesuai namanya, Sascha membuat puisi yang menggambarkan keunikan hidup serta keajaiban sihir.
Polina Barskova
Lahir di Leningrad, Russia, Polina mulai menulis sejak usianya masih 8 tahun. Polina merilis buku puisinya Christmas (1991), saat masih berusia 15 tahun. Meskipun masih muda, Polina sudah meraih penghargaan seperti Young Poet Prize di tahun 2005.
Salah satu koleksi puisinya berjudul Air Raid (2021) yang memuat kenangan orang-orang yang melewati The Siege of Leningrad (Pengepungan Leningrad) di tahun 1914. Polina menuliskan setiap tokoh dalam puisinya secara kompleks sehingga memberikan mereka kehidupan tersendiri.
Air Raid menggambarkan isi surat dari seorang anak kepada ayahnya yang ditahan di gulag dan surat dari neneknya yang hampir meninggal.
Polina menuangkan pahitnya trauma historis ke dalam buku-buku puisinya. Dia juga menuliskan beberapa buku lain yang berjudul This Lamentable City (2010), The Zoo in Winter (2011), dan Relocations (2013).
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih