diajeng.id - Sineas Christopher Nolan kembali unjuk gigi usai film terakhirnya, Oppenheimer (2023), meraih tujuh piala Oscar. Kali ini, Nolan menadah inspirasi sinematiknya dari literatur klasik Yunani karya Homer, The Odyssey.
The Odyssey menceritakan tentang prajurit Yunani bernama Odysseus yang berkelana mencari jalan pulang menuju rumahnya di Ithaca.
Odysseus banyak dihormati karena kecermatannya dalam menyusun strategi perang dan kemampuan tempurnya yang tak terkalahkan. Sebagai pemimpin wilayah Ithaca, Odysseus menjadi garda terdepan pasukannya saat pergi berperang.
Setelah berhasil memenangkan Perang Troya yang merenggut banyak nyawa, Odysseus tidak hanya kehilangan jalan pulang, tetapi juga hasrat untuk kembali ke rumah.
Sebagaimana film garapan Nolan lainnya, The Odyssey ramai menuai respons publik. Salah satu daya tarik film ini terletak pada kehadiran aktris kelas dunia, seperti Anne Hathaway, Zendaya, dan Lupita Nyong’O.
Bagaimana para karakter perempuan yang mereka perankan ini dilukiskan melalui lensa seorang Nolan?
Dari Ratu sampai Dewi
Meskipun didominasi tokoh laki-laki, The Odyssey menampilkan keberagaman figur perempuan. Sebab, perempuan-perempuan ini tetap memegang peran penting dalam melengkapi narasi kehidupan Odysseus.
Penelope (diperankan Hathaway) adalah ratu sekaligus istri dari Odysseus. Setelah ditinggalkan Odysseus selama dua dekade, Penelope harus menghadapi keruwetan Ithaca yang kehilangan arah karena absensi pemimpinnya.
Anak Penelope dan Odysseus, Telemachus (Tom Holland), tidak berhasil mengumpulkan kepercayaan rakyat Ithaca sehingga memutuskan pergi berlayar ke Sparta untuk mencari sang ayah. Di Sparta, Telemachus bertemu dengan Raja Menelaus dan istrinya, Ratu Helen (Nyong’O).
Helen adalah saudara kembar Clytemnestra (diperankan juga oleh Nyong’O), ratu Sparta sebelumnya yang membunuh suaminya, Agamemnon, rekan berperang Odysseus.
Kembali pada Odysseus, dalam perjalanan pulangnya, ia menjumpai Circe (Samantha Morto), perempuan berkekuatan dewi yang bisa mengubah para prajurit menjadi hewan. Odysseus juga dilindungi oleh sea nymph alias peri laut Calypso (Charlize Theron), sosok perempuan yang menyelamatkan Odysseus usai terombang-ambing badai.
Dari semua karakter ini, Athena (Zendaya), menjadi figur perempuan yang paling sering muncul membersamai Odysseus. Sebagai dewi dari kebijaksanaan dan peperangan, Athena hadir untuk memberikan petuah dan petunjuk bagi Odysseus yang penuh kebimbangan.
Perempuan sebagai Pemulus Jalan Cerita
Sama seperti Athena yang berperan sebagai pedoman Odysseus, karakter perempuan lainnya hadir sebagai penunjang cerita alias pendukung perjalanan Odysseus.
Helen ditampilkan untuk menceritakan kisah Agamnemom kepada Telemachus, yang kelak menemui Odysseus.
Ketika Circe mengubah pasukan Odysseus menjadi babi, Odysseus mulai merenungkan keputusan perangnya yang merenggut nyawa banyak orang.
Calypso yang menemani Odysseus selama hampir satu dekade di pulau terlantar, hadir untuk memberikan dukungan padanya agar dapat menggenapkan niat untuk kembali ke rumah.
Di luar eksistensi mereka sebagai pendukung Odysseus, sulit mengetahui kedalaman karakter para perempuan ini lantaran mereka pada dasarnya diposisikan sebagai plot device alias pemantik perkembangan cerita. Dalam konteks ini, kehadiran mereka terutama berfungsi untuk mendorong perkembangan karakter sang protagonis.
Terselip pesan bahwa perempuan-perempuan ini memegang peran penting dalam perjalanan Odysseus. Tanpa mereka, Odysseus mustahil mencapai akhir yang didambakannya. Sayangnya, peran yang besar tersebut tidak diimbangi dengan pendalaman yang memadai terhadap kisah mereka sendiri.
Kita memang sempat diajak melongok sebentar ke latar belakang mereka, Calypso misalnya, yang memutuskan untuk membantu Odysseus karena jatuh hati padanya.
Namun, siapa sebenarnya Calypso? Apa yang membuatnya beralih dari sosok yang bertahan hidup di pantai kemudian menghabiskan banyak waktunya untuk Odysseus? Eksistensi Calypso berpusat pada perannya menyokong kesembuhan sang tokoh utama.
Kemunculan Athena terbilang sedikit untuk seorang dewi. Penggambaran Athena mungkin disesuaikan dengan sudut pandang Odysseus yang hanya memiliki perbincangan singkat dengan dirinya. Namun, bukankah seorang dewi setidaknya mempunyai sudut pandangnya tersendiri? Bagaimana caranya mengambil keputusan terkait nasib manusia?
Cerita dari beberapa karakter ini mungkin bisa diwajarkan, mengingat posisi mereka sebagai pemeran pendukung. Namun, Penelope, salah satu karakter utama, memiliki kecenderungan yang serupa.
Meski perjuangan Penelope sebagai ratu di Ithaca ditampilkan, tidak banyak pendalaman terhadap pergulatan batin yang dihadapinya selama ini. Karakternya terasa belum tergarap secara utuh, padahal Penelope adalah ratu yang mengambil alih tahta kosong di wilayah yang dilanda krisis dan konflik.
Pada akhirnya, Penelope diperlihatkan sebagai perempuan yang menderita dalam penantian kepulangan suaminya. Alih-alih menonjolkan agensi dan kepemimpinannya, film ini menempatkan Penelope sebagai motivasi utama bagi Odysseus untuk kembali ke rumah.
Resiliensi Perempuan
Secara garis besar, kepribadian tokoh-tokoh perempuan dalam The Odyssey lebih banyak ditampilkan melalui relasinya dengan Odysseus. Porsi masing-masing cenderung kecil sehingga penonton tidak banyak mendapat kesempatan untuk mendalami perjalanan hidup atau kegaulauan yang mereka alami di luar kaitannya dengan pengembaraan Odysseus.
Beberapa film Nolan sebelumnya juga sempat menuai kritik serupa. Oppenheimer (2023), Tenet (2020), bahkan Inception (2010), dinilai memiliki kecenderungan menempatkan tokoh perempuan sekadar sebagai pendorong motivasi tokoh utamanya.
Dalam The Odyssey, karakter perempuan yang mendapat sudut penceritaan cukup baik adalah Clytemnestra dan Circe. Meski porsi ceritanya sedikit, penonton dapat menangkap motif yang melandasi keputusan, strategi, serta keraguan yang menyertai tindakan-tindakan mereka.
Kedua karakter tersebut digambarkan sebagai sosok yang tegas sekaligus teguh pada pendiriannya. Di tengah konfrontasi dengan tokoh lain, Clytemnestra dan Circe tetap menunjukkan keberanian dan resiliensi.
The Odyssey adalah sebuah proyek ambisius yang secara ciamik mampu menampilkan perjalanan hidup umat manusia dari lensa yang humanis. Sayangnya, sebagai film yang berpusat pada narasi pengembaraan, The Odyssey belum memberi ruang yang cukup untuk mengeksplorasi perjalanan tokoh-tokoh perempuannya.
Penulis: Maria Gratia Rosarina
Editor: Sekar Kinasih